Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Sekilas opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekilas opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Oktober 2015

Nyontekin Apa Salah?

Nyontek? Nyontekin? Kata yang sudah tak asing di telinga kita. Mungkin tak hanya katanya saja yang akrab, bahkan sudah kita terapkan sehari-hari. Hayooo?

*gambar dari http://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/553031100423bd7e368b4567.jpeg?t=o&v=760 *


Berawal dari iseng stalking timeline facebook dan menemukan sebuah curahan hati status yang agak menggelitik, maka lahirlah tulisan ini. Ga ada maksud menyinggung atau menyindir siapapun, hanya ingin mengisi lembar halaman ini agar tak kosong #apasih

Oke to the point aja. Status tersebut berisi argumentasi penulis akan berbagi ilmu. Berbagi ilmu apa? Yang jelas dong!!! Oke oke akan saya perjelas, yg dikhususkan oleh penulis adalah keuntungan dari berbagi ilmu. Bahwa sejatinya ketika kita berbagi ilmu, ilmu kita tak akan sedikitpun berkurang, justru akan semakin tertanam pemahaman dengan baik dan bahkan bertambah. Penulis pun menenangkan kita, bahwa ketika kau memberi ilmu, namun nilai yang ternyata kalian dapat lebih rendah dari pada mereka yg kalian ajari, mereka yang kalian bantu, sungguh jangan khawatir ataupun kecewa. Karenaa hal itu jauh lebih baik dari pada kalian membanggakan nilai di atas kertas yang tinggi namun ilmunya hanya disimpan sendiri. (tentu saja penulisan dan bahasanya tidak persis seperti ini)

Apakah saya menentangnya? Tidak. Apakah saya menyalahkan argumentasi  di atas? Tidak. Justru saya acungkan jempol-jempol saya untuk argumen yang memang benar tersebut. Ya, saya sangat setuju dengan pernyataan saudara penulis di atas, apakah arti ilmu dan pengetahuan jika hanya kita yang menikmatinya? Apakah arti paham jika kita tak mengajarkan dn mengamalkannya? Bukankah Rasul kita sendiri berpesan agar kita senantiasa menyampaikan apa yang kita tahu (tentunya yang benar dan baik) walaupun hanya satu ayat?

Lantas apanya yang menggelitik? Yang saya sayangkan di sini adalah hashtag atau tanda pagar di akhir curhatan sang penulis. Status itu diakhiri dengan hashtag 
#Refleksi UAS, Nyonteki apa Salah
Dari kaca mata saya pibadi, nyontek dan menconteki adalah salah.

*gambar ambil dari https://pbs.twimg.com/media/CEkuWa4UMAAxXRR.jpg *


Sudah jelas itu UAS, atau umumya ujian. Yang pasti diikuti dengan peraturan "kerjakan sendiri" , "dilarang mencontek", dan lain sebagainya. Sekalipun bersifat open book atau open laptop, yang namanya ujian tetap saja dilarang mencontek dari orang lain. Kalau boleh contekan, boleh keja sama, mungkin itu hanya sekedar latihan.

Ujian adalah alat untuk mengukur kemampuan. Jika mencontek, lantas apanya yang mau diukur? Kemampuan teman? Kemampuan bertanya? Kemampuan melirik?
Bisa dibilang, saya priadi yang cukup keras jika sudah urusan contek mencontek. Bahkan dulu ketika masih mengenakan seragam putih-merah, saya masuk ke kategori anak alay yang ketika ulangan meja dikelilingi oleh pagar sederhana dari buku.
Hal ini tak lepas dari didikan orang tua saya yang cukup keras, sejak dulu saya sudah ditanamkan untuk tidak mencontek dan memberikan contekan. Bahkan bapak saya pernah bilang, lebih baik saya mendapat nilai merah dari pada nilai dengan kepala 9 atau bahkan 10 tapi hasil mencontek. Dan benar saja, sekalipun nilai saya hanya berkisar di kepala 3 atau 5, saya tidak pernah dipukul dan dijewer, dimarahi saja tidak.

Jika ketika ujian saya tidak bisa, sudah buntu sebuntu-buntunya, sudah merenung, menghayati dan meminta ilham tak kunjung datang, ya ujung-ujungnya pasti asal saja menyilang apapun, menghitamkan apapun, a, b, c atau d bagi saya sama saja Jika essay saya hanya mengandalkan kemampuan mengarang bebas saja.

Namun ternyata, yang susah bukan melindungi diri dari mencontek, tapi melindungi diri dari memberikan contekan. Ya, kadang teman terdekat memanggil-manggil, meminta pencerahan atas kebuntuannya (padahal diri ini sendiri juga buntu). Kalo dicuekin biasanya jd rasan-rasan, kalo dibantuin kok ya gimana gitu ya, ini kan untuk mengukur kemampuan diiri masing-masing, bukan kemampuan gabungan -,-. Jadinya ya main tega-tegaan deh. Maaf ya teman-teman :(

Sekarang mari kita kembali ke status yang mengagumkan tadi....

Berbagi ilmu, menjawab dan menjelaskan hingga ke detail trkecil, bahkan membantu sebesar-besarnya hingga orang lain paham dan jauh lebih paham dari kita 100% tidak salah. Orang lain paham, kitapun semakin paham. Ini simbiosis mutualisme bro! Jadi ga usah khawatir

Tapi.. tentunya hal ini diharamkan ketika ujian. Ketika ujian lho ya. Jadi sebelum ujian ya sah-sah aja bahkan jika kita memang mampu, ya HARUS dilakukan. Kapanpun itu, kalau memang orang lain membutuhkan kita yang kebetulan lebih dulu paham, ya harus dibantu toh, selama kita bisa dan mampu. Selesai perkuliahan/pelajaran,ketika belajar kelompok,  sebulan/seminggu/semalam bahkan sejam sebelum ujian, ya silahkan. Tidak ada yang melarang

Terus bagaimana dengan poin kedua?
Jika kita sudah mengajari dan berbagi, tapi ternyata nilai di atas kertas kalah dengan si doi :""""

Kalau kalian ngajari dan berbagi jawaban ketika ujian, ya salahmu bro! Itu kebodohanmu sendiri! Bisa jadi karena kalian sendiri yang kurang teliti, kalian yang meremehkan, jawaban kurang sempurna, dan sebab-sebab lain.
Tapi yang nyebelin itu, bisa juga karena si doi cuma ga bisa 2 dari 50 soal, terus tanya kalian, bener lagi. Sedangkan kalian cuma bisa 45 soal, 5 lainnya ga nyontek, sekalinya nyontek dikasih jawaban yang salah. Ya jelas niainya kalah. *sebelngga? sebel banget dong ya*

Tapi, kalau kalian mengajarinya dengan cara dan jalan yang benar (sebelum ujian), ya tetap salah kalian sih, masa salah ibu bapak kalian *glodak*.
Lho, kok masih salah sih? Karena memang manusia tempatnya salah dan khilaf :D
Iya, sama aja salah kalian, bisa jadi karena kalian juga kurang teliti, kalian meremehkan karena merasa bisa, jawaban hanya seadanya alias kurang sempurna, sementara doi-doi yang kalian bantu belajarnya itu terus belajar karena masih merasa "kurang bisa".
Harusnya ga ada rasa sebel, mangkel dan sebagainya.
Yang ada justru rasa kebermaknaan, ikut senang karena apa yang kita ajarkan bermanfaat, ternyata apa yang kita lakukan bisa membantu orang lain, dan menjadi cambuk sendiri untuk tidak selalu merasa bisa dan cukup untuk belajar.

Memang nilai bukan segalanya, konsep dan pemahaman yang kita dapat jauh lebih berharga dari pada deretan angka yang menghiasi lembar ujian kita. Tapi tak bisa dipungkiri lingkungan menuntut nilai untuk senantiasa diagung-agungkan.
Tapi yang saya tahu,
hasil tidak akan mengkhianati usaha
Jika usaha untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi terus diperjuangkan, maka hasil akan linier dengan besarnya perjuangan itu. (Ada yang setuju? :D)

#Nooffense ya..
Sepertinya saya sudah berceloteh terlalu panjang, hehe...
Biasanya sih kalo kaya gini dibilangnya sok pinter, caper, pelit, dan sejenisnya. Maklum lah, lingkungan dan budaya kecurangan di negeri ini sudah mengakar. Jadi justru yang “berbeda”lah yang dianggap aneh dan dijauhi. :v

Ada sedikit oleh-oleh nih,
*gambar diambil dari http://4.bp.blogspot.com/-dFyPi7w4TvA/U0Pq8vjhMAI/AAAAAAAAI3w/lhurzBCKPjI/s1600/IntegrityOprahInd.jpg *

Sabtu, 26 Oktober 2013

Saatnya Mereview Berita ;)

Yak, kali ini saya akan mengajak anda-anda semua untuk mereview berita dari 3 situs berita yang cukup bertaring. Mau tahu lebih jelasnya? Scroll ke bawah terus ;)
Saya sengaja mengambil contoh dengan tragedi yang sama, jadi bisa lebih spesifik bagaimana mereview dan membandingkannya.

Contoh pertama saya ambil dari situs detik.com yang bertanggal 23 Oktober 2013,
Rabu, 23/10/2013 21:04 WIB


Berita yang disajikan oleh detiknews ini cukup singkat. Penulis juga sudah menggunakan prinsip piramida terbalik, yaitu menempatkan inti berita pada awal berita sehingga pembaca dapat segera mengetahui isi  atau informasi yang akan disampaikan. Namun berita ini juga kurang jelas karena 5W+1Hnya tidak lengkap. Berita ini tidak memberitahukan dengan jelas “kapan” terjadinya kecelakaan tersebut, Selain itu, penulis tidak menggunakan prinsip cover both side, karena penulis hanya menampilkan pernyataan petugas TMC Polda Metro Jaya, dan pernyataan itupun kurang mendetail. Penulis tidak menyertakan keterangan dari pihak-pihak lain yang mungkin terkait.

Berita yang kedua saya ambil dari situs tribunnews.com, langsung saja check it out! J



Dari sini kita bisa segera mengetahui inti berita yang akan disampaikan, yaitu adanya tragedi tabrak lari yang menewaskan seorang wanita tua. Itu artinya penulis berita ini sudah menggunakan prinsip piramida terbalik yang menampilkan inti berita pada awal penulisan. Isinya juga lebih jelas dan terupdate. Penulis juga memperhatikan 5W+1H khususnya How, yang menjelaskan jalan cerita terjadinya tragedi tersebut.

Berita yang terakhir adalah berita berasal dari situs tempo.co tentunya dengan inti berita yang sama.


Berbeda dengan berita-berita sebelumnya, berita dari tempo.co ini lebih panjang dan memuat informasi yang lebih jelas dan mendetail. Prinsip Piramida terbalik juga sudah diterapkan, jalan cerita tragedy juga dijelaskan secara rinci yang langsung didapat dari narasumbernya.

KESIMPULAN:

Dari ketiga berita ini, yang lebih baik untuk dijadikan contoh adalah berita dari tempo.co , karena informasi yang diberikan lebih mendetail dan terupdate. Penulis memberikan berita yang tidak setengah-setengah dan jelas meskipun waktu penulisannya hanya berselisisih beberapa jam dari kejadian. Tetapi jika ditinjau dari judul, saya lebih condong ke tribunnews karena pemilihan ketanya lebih menarik pembaca.

Kamis, 10 Oktober 2013

Remaja: Semakin Dilarang, Semakin Tertantang ??!?!?!?

Sebagai seorang remaja yang masih labil dan memiliki idealisme plus rasa ingin tahu yang tinggi, mungkin judul di atas sangat tepat!

Jiwa-jiwa remaja memang mudah sekali tertantang, bahkan terkadang mereka bisa bertindak terlalu nekat. Terlebih jika mendapat tekanan atau larangan akan sesuatu yang dikehendakinya.

Bukannya menuruti, mereka malah semakin penasaran. Karena yang ada di pikiran mereka justru,
"Mengapa aku dilarang?" "Pasti ada sesuatu yang disembunyikan" "Sepertinya asyik jika dicoba"
Dan pikiran-pikiran tersebutlah yang akan memacu mereka untuk melakukan pelanggaran. Mereka merasa hebat dan menemukan tantangan tersendiri ketika berani mengambil resiko karena melanggara larangan.
Faktor lain yang juga mendukung disebabkan oleh lingkungan di sekitar remaja. Ketika remaja mendapat sebuah larangan, ia akan mencoba mencari kesamaan nasib pada teman-teman di lingkungannya. Jika mayoritas temannya bernasib sama, dia akan lebih bisa menerima dan kemungkinan untk melakukan pelanggaran akan lebih sedikit. Begitupun sebaliknya, jika mayoritas temannya justru didukung dan tak dilarang sama sekali, dorongan untuk melanggar akan semakin besar.
Sebaiknya, para orang tua tidak terlalu mengekang anaknya yang berada dalam tahap remaja. Mengontrol itu perlu, asalkan tak berlebihan. Orang tua juga perlu menyadari bahwa anak mereka bukan "anak kecil" lagi, remaja juga butuh kepercayaan dari orangtuanya dalam melakukan hal-hal yang juga dilakukan teman-temannya selama itu tidak melanggar norma. Jika orang tua memang harus melarang pun, hendaknya didasarkan pada alasan yang jelas dan obyektif, yang kemudian didiskusikan kepada sang anak dengan pendekatan yang baik.
Bagi remaja, cobalah untuk "mencari" dahulu sebelum melanggar. Jika perlu, kritisi larangan-larangan orang tua yang menurut kalian berlebihan, tetapi tetap dengan etika yang baik dan santun. Tanamkan juga kesadaran bahwa larangan mereka pasti untuk kebaikan kita juga, Tak ada orangtua yang menginginkan keburukan bagi anaknya, bukan?

Minggu, 18 Agustus 2013

Pilihan dan Memilih

Sepertinya sudah lama banget ga nulis di sini, hehe sebenernya pingin se pingin banget malah banyak yang ingin disampaikan, tapi entahlah terasa begitu sulit menguraikannya. Memang yang namanya keiasaan ya kebiasaan, semakin lama ga dilakuin yaaaa isa jadi malah lupa gimana caranya ngelakuin hal itu lg :/

Setelah menjalani masa transisi (Pelajar-Mahasiwa) yang cukup lama kurang lebih 4 bulan, kini tibalah saatnya untuk kembali mengarungi kehidupan keras yang baru saja akan di mulai hahaha *evil laugh. Masa transisi ini tentunya mengukir banyak sekali hal tak terlupakan, momen-momen kegalauan, kekecewaan, kejenuhan, kemarahan, penentuan, perjuangan dan momen-momen lainnya.

Kecewa, karena beberapa target dan rencana yg sudah tersusun gagal tercapai..
Galau, karena entah bagaimana menambal kegagalan itu...
Jenuh, karena harus terjebak dan tak segera bertemu dengan jalan keluar yang menenangkan...
Marah, karena semua bertolak dan memalingkan muka atas apa yang terjadi..

Hingga akhirnya harus memilih, dilematis yang sangatsangatsangatsangat *kebanyakan sangat nih* menyiksa. Tetap pada pilihan atau melunakkan diri dan mencari jalan lain?

Dan ternyata, jalan yang terbuka adalah jalan lain, bukan jalan yang ingin kulalui, tapi harus kulalui. Haruskah? Benarkah? Terkadang berbagai pertanyaan yang melemahkan selalu datang, seakan mengejekku yang tak mau memperjuangkan apa yang kuinginkan.

Mungkin "kecupuanku" terlihat sangat mencolok di sini. Tapi inilah aku, dengan pilihanku. Sesekali pernah marah atas faktor-faktor yang mendorongku untuk memilih, tapi seseorang menyadarkan bahwa apa yang kujalani sekarang adalah pilihanku. Freewillku. Kehendakku. Dan jika aku harus marah satu-satunya yang berhak mendapat amarah itu adalah diriku sendiri.

Tapi satu hal yang masih dan insyaallah akan selalu kupegang. Aku masih dengan cita-citaku, tapi mungkin dengan alat yg berbeda.

Kamis, 28 Maret 2013

Kata Remaja tentang Politik


“Politik”, satu kata yang sudah menjadi tren masa kini, terutama di Indonesia yang kita cintai ini. Hampir seluruh lapisan masyarakat tahu, bahkan tak jarang politik menjadi buah bibir di mana-mana. tetapi, pada kenyataannya hanya segelintir orang yang benar-benar paham dan mengenal hakikat “politik” yang sesungguhnya.
Politik dalam arti luasnya adalah pengaturan urusan masyarakat. Tidak ada yang salah bukan dengan politik? Yang salah di sini adalah cara pendahulu-pendahulu kita dalam melaksanakannya.
Di Indonesia, identitas politik sudah tercemar. Pihak penguasa secara tidak langsung menanamkan bahwa politik itu korupsi, politik itu menyuap, politik itu kotor, politik itu rekayasa, politik itu kejam, dan itu-itu lain yang tentunya mengandung unsur keburukan. Pada akhirnya, paradigma yang seperti itu mengantarkan kita menjadi masyarakat yang acuh tak acuh terhadap dunia perpolitikan. Terlebih lagi untuk remaja, pandangan mereka yang salah terhadap politik, menurunkan kesadaran untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.
Padahal, tanpa kita sadari, kehidupan kita secara tidak langsung selalu dipenuhi dengan politik, bahkan kita sendirilah yang melakukan aksi politik tersebut. Sesederhana itu.
Jadi sangat mustahil jika ada pernyataan yang melarang generasi muda untuk berpartisipasi di dunia politik, bahkan dalam takaran partisipasi yang sangat minim. Yaitu peduli terhadap realita dan menjadikannya bahan diskusi sehari-hari.
Politik dianggap momok dan kutukan yang seharusnya tak boleh disentuh oleh pemuda-pemudi kita. Generasi-generasi tua menganggap kita –para remaja- masih anak-anak dan tidak tahu apa-apa tentang politik, apalagi masalah-masalah politik di Indonesia yang terbilang cukup kompleks.
Menurut saya, justru ketika generasi muda berbicara politik adalah hal yang patut diacungi jempol, sangat patut dibanggakan. Karena itu artinya, di umur mereka yang masih muda, mereka masih mempedulikan bangsanya, mereka sudah mempedulikan masyarakatnya. Merekalah remaja, generasi penerus bangsa ini, mereka pun berhak menyumbangkan suaranya di dunia politik. Mengapa harus dibatasi? Bukankah itu adalah suatu kemajuan, karena mereka telah mempersiapkan dirinya untuk ikut berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang sesungguhnya?
Remaja identik dengan ide dan pemikirannya yang masih fresh dan kreatif. Bukankah itu bisa menjadi sebuah kontribusi awal untuk me-reload­ ide-ide tentang politik Indonesia saat ini sehingga menjadi lebih berkembang dan solutif? Selain itu, jiwa kritis para remaja juga sangat dibutuhkan untuk melakukan control dan pengawasan terhadap politik pemerintahan negara kita.
Saya sendiri awalnya juga memegang paradigma yang salah tentang politik. Bahkan saya cenderung menghindar, saya terlalu takut untuk terjun di dalamnya. Tetapi di sisi lain diri saya, saya juga tak jarang melakukan diskusi dengan teman, mengomentari masalah-masalah Negara yang terkait sangat erat dengan dunia politik. Setelah itu, saya sadar bahwa berbicara tentang politik dengan usia kita yang mungkin masih bau kencur di mata orang-orang tua tidaklah salah. Benar-benar tidak ada yang salah. Bahkan jika mulai sekarang kita bercita-cita, atau terjun dan berkeimpung secara langsung di dunia politik benar-benar tak ada salahnya. Malah seharusnya kita berada di barisan terdepan untuk mendukung mereka, yang tentunya berorientasi membawa masyarakat Indonesia menuju masyarakat madani. Masyarakat yang lebih baik.

Rabu, 13 Maret 2013

Pidato Ujian Praktek

Assalamualaikum Wr. Wb

Yang terhormat,
Bapak dan ibu guru SMA Negeri 2 Surabaya.
Dan yang saya cintai,
Teman-teman kelas XII SMA Negeri 2 Surabaya.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmatnyalah kita dapat berkumpul di aula SMA Negeri 2 Surabaya ini dalam acara istighosah dan motivasi bersama.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang.
Terima kasih yang sebesar-besarnya saya tujukan kepada bapak dan ibu guru yang berkenan hadir, dan teman-teman kelas XII yang telah mengizinkan saya untuk menyampaikan pidato singkat ini.

Teman-teman yang saya sayangi,
Tidak terasa sudah hampir 3 tahun kita menimba ilmu di SMADA yang kita cintai ini. Tak hanya pelajaran di kelas yang kita dapat, tapi lebih dari itu. Persaudaraan, perjuangan, tangis, tawa, yang sebentar lagi hanya akan menjadi memori.
UNAS sudah semakin dekat, hanya kurang 35 hari lagi! Saya yakin kalian sudah melakukan berbagai persiapan dalam menyambutnya. Mulai dari belajar sendiri, mengikuti bimbingan belajar, memanggil guru privat, dan lain sebagainya. Saya juga tahu, bahwa hari-hari kalian selalu diisi dengan belajar dan berdoa tanpa lelah dan bosan.

Tapi tak dapat dipungkiri, bahwa ada dari kita yang juga mempersiapkan kecurangan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kali penyelenggaraan UNAS, kunci jawaban diperjualbelikan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Hebatnya, presentase kebenaran kunci tersebut sangat tinggi, dan terbukti manjur dari tahun ke tahun.

Teman-teman yang saya cintai,
Bocoran tersebut dapat berbahaya bagi masa depan kita. Bahkan ekstrimnya, bagi masa depan bangsa kita. Mental dan moral kita sebagai generasi penerus akan hancur hanya karena bocoran tersebut. Pendidikan Indonesia tak hanya gagal dalam menciptakan pendidikan yang baik, tapi juga akan gagal dalam mencetak produknya, yaitu kita. Sebagai tombak kepemimpinan bangsa ini selanjutnya.

Teman-teman yang saya banggakan,
Seperti yang sudah dijelaskan oleh bapak dan ibu guru, bahwa UNAS tahun ini agak berbeda. pemerintah sudah menyiapkan 20 paket soal dengan LJK yang berbarcode di dalamnya. Itu artinya, dalam satu ruangan, setiap siswa mendapat satu soal yang berbeda satu sama lain. Ditambah dengan LJK yang sudah dilengkapi barcode yang tidak memungkinkan untuk ditukar. Pengondisian seperti ini mungkin tak bisa 100 % menghilangkan kecurangan, tetapi saya yakin cara ini efektif untuk mengurangi potensi kecurangan yang akan terjadi. Perubahan memang memerlukan waktu, bukan?

Teman-temanku seperjuangan,
Tahukan kalian bahwa dengan menggunakan bocoran, kita tak ubahnya seperti tikus-tikus berdasi yang selama ini kita hujat. Bukankah kita bertekad untuk memperbaiki wajah ibu pertiwi yang sudah tercoreng ini? Menumpas segala bentuk kecurangan yang terlanjur melekat dengan identitas bangsa kita!
Maka dari itu, mari kita mulai dari diri kita sendiri sebagai subyek utama dalam permasalahan ini. Mari kita buktikan bahwa proses belajar kita di SMADA selama ini benar-benar membuahkan hasil yang optimal. Dari otak kita sendiri! Dari keringat kita sendiri! Jangan pernah takut menjunjung tinggi kejujuran dan sportifitas. Percayalah, hasil yang akan kalian dapat akan jauh lebih memuaskan dari pada hasil yang didapat dengan kecurangan.

Dan untuk bapak dan ibu guru, terima kasih atas kesediaan bapak dan ibu dalam mendidik dan membimbing kami selama ini. Lepas anandamu dengan doa dan dukungan. Kami berjanji kami tidak akan mengecewakan bapak dan ibu.

Sekian pidato dari saya, saya mohon maaf apabila ada kata atau sikap yang kurang berkenan. Atas perhatian bapak dan ibu serta teman-teman sekalian saya mengucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Kamis, 07 Maret 2013

Dasar Manusia

Dasar manusia,
Dikasih panas ngeluh, minta hujan
Hujan turun, ngeluh juga, minta reda.

Dasar manusia,
Dikasih sepuluh minta seratus,
Dikasih seratus eeee malah minta seribu.

Dasar manusia,
Lagaknya menebar senyum,
Tapi benci dan dendam masih bersemayam.

Dasar manusia,
Mau ini, mau itu, mau banyak sekali.

Dasar manusia,
Paling sebel kalo diomongin di belakang,
Tapi dianya suka main belakang.

Dasar manusia,
Katanya ga suka dipaksa,
Tapi kenapa dianya sendiri semena-mena?

Dasar manusia,

Kamis, 24 Januari 2013

Terkadang Kita Harus Memaksakan Diri

Surabaya, 24 Januari 2013...
H-81 UNAS SMA 2013

Berkaca... Apa yang sudah kupersiapkan untuk menyambutnya?
N.O.T.H.I.N.G!
Ini gila! Entah mengapa atmosfernya sangat berbeda dengan detik-detik terakhir di penghujung SMP 3 tahun yang lalu.Semuanya berubah!

Lantas? Apa mau diam saja?
E.N.G.G.A.K!
Aku sudah niat untuk berubah, berusaha memperbaiki dan meniti kembali. Tapi niat hanya terpatri dalam hati tanpa tidakan yang jelas!

Setelah perjalanan panjang mencari tujuan, akhirnya aku sampai pada titik ini. Belum final memang, tapi kurasa ini sebuah kemajuan yang sangat pesat! Setidaknya ada sebuah gambaran yang memotivasiku! Yap! Motivasi! Mimpi! Itu yang selama ini kuabaikan!

Aku terlambat! Memang, memang aku terlambat start dari mereka. Tapi detik ini, dengan mimpi dan motivasi yang menjadi bahan bakarku, aku tak hanya akan memulai. Tapi juga berlari. Aku harus berlari! Melebihkan usaha dan doa di atas rata-rata.

Semua ini hanya perlu pembiasaan. Dan terkadang, untuk terbiasa kita memang harus dipaksa! Tak ada salahnya untuk keras pada diri sendiri!

S.E.M.A.N.G.A.T

Kamis, 03 Januari 2013

Ingat Luas Sebelum Sempit (!)

Kamis, 03 Januari 2013.

Hari ketiga di bulan pertama dalam tahun ini. Tetapi sudah memasuki hari ke-13 liburan semesteran saya. Itu artinya sudah 13 hari saya vakum dari dunia efektif sekolah dan diberi kenikmatan waktu senggang yang lumayan dahsyatnya.

Hari-hari pertama liburan saya diisi dengan kedatangan saudara dari Batu, sampai saya dan keluarga diculik oleh mereka untuk dibawa jua ke kota wisata terssebut. Tak lama memang, hanya sekitar 2 hari 2 malam mereka di sini dan saya balas dengan kehadiran selama 4 hari 4 malam di sana. Berkumpul bersama keluarga besar, sekedar melihat tv dan membuat obrolan santai, sampai berwisata ke waduk Selorejo saya lakukan selama itu. Sampai akhirnya ketika hari terakhir saya di sana, tepatnya seminggu yang lalu. Saya dan beberapa cuil teman sekelas saya semasa kelas XI menyambangi saudara sepencipta namun berbeda jenis yaitu hewan-hewan cantik lucu nan imut yang dianugerahi tempat sekeren Batu Secret Zoo. Setelah itu saya kembali pulang ke Surabaya ke rumah tercinta dan memulai kehidupan di rumah seperti sebelumnya.

Dua hari selanjutnya, hari Sabtu minggu lalu saya baru keluar karena ada beberapa urusan sekalian menonton    sebuah film Indonesia yang sedang booming. Katanya sih jarang ada film Indonesia sebagus ini, film yang mengangkat tentang romantika bapak presiden ke-3 kita dengan ibu negara. Memang bagus, tetapi tak ada kesan yang begitu mendalam bagi saya. Saya hanya kagum bagaimana sepasang makhluk Tuhan tersebut memperlakukan selainnya dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. *weeets stop*. Mungkin itu bisa dibilang hari terakhir saya keluar dari rumah, karena semenjak itu saya sudah tak pernah keluar rumah lagi sampai detik ini. Total sudah lima hari dan saya rasa baru beberapa menit tadi batin saya sudah mencapai puncak ketahanannya.

Lima hari ini, kegiatan saya di rumah bisa dibilang cukup membosankan. Hanya latihan soal, blogging, mengunjungi twitterland, tidur, melihat acara tv yang mendadak menampilkan film-film yang cukup menghibur, makan, mandi, ibadah ritual, dan penghayatan diri. Tak lebih. Ibu berkali-kali memberikan tawaran berlibur kembali yang tentu saja saya terima dengan antusias. Tapi yaaa rencana tinggal rencana karena sampai sekarang pun tak ada liburan itu.

Siang tadi, selepas shalat Dzuhur saya kembali berhadapan dengan laptop yang sudah difasilitasi dengan layanan internet sehingga saya bisa dengan asyik berselancar di dunia maya, seperti yang saya lakukan ketika bosan. Saya membuka blog ini, berencana membuat satu postingan lagi tapi tak jua saya temukan inspirasi yang pas. Saya mencoba bermain ke twitland dan lagi-lagi hanya bosan yang saya temui di sana. Hingga akhirnya dengan mantap saya membuka soal penyisihan sebuah lomba statistika edisi tahun lalu dan mencoba mengerjakannya. Baru mencapai nomor ke tujuh adik saya datang dan meminta "jatah"nya untuk penggunaan laptop hari ini. Karena saat itu saya tak menemui kenikmatan yang begitu menggelora, yaa dengan senang hati saya berikan padanya. Lalu saya berbaring di sofa ruang tamu dan entah apa yang terjadi saya segera tak sadarkan diri alias tidur siang.

Tidur siang yang cukup lama, saya terbangun hanya beberapa menit sebelum adzan Ashar berkumandang. Ketika bangun, saya mendapati bapak dan ibu ada di dekat saya. Ibu mengabarkan semua rencana liburan beliau yang gagal total, dan saya menanggapinya dengan rengekan. Saya katakan pada beliau bahwa saya sudah sangat jenuh dan bosan. Tak ada kerjaan berarti yang saya lakukan di rumah. Saya kembali merengek dan merengek agar diajak berlibur entah ke mana saja asalkan jangan di rumah. Saya benar-benar bosan, merasa seperti dalam penjara dan tak ada lagi yang bisa saya lakukan.

Tiba-tiba saya teringat akan tweet dari salah seorang sahabat yang intinya sangat menusuk sekali.
"..... Pantesan hidupmu sedih, mengeluh terus sih"
Kalau tidak salah begitu isinya, dan saya segera tersadar bahwa baru saja saya banyak mengeluhkan tentang liburan kali ini. Ga mau dong jadi orang yang hidupnya dirundung kesedihan? Jadi ya saya mulai beristighfar dan mencoba menggali pikiran-pikiran positif agar bersemangat kembali.

Dan ternyata berhasil! :D Saya berhasil menemukan beberapa hal yang sebisa mungkin saya sugestikan untuk mengusir kejenuhan saya. Saya sadar bahwa Allah begitu baik sekali memberi liburan panjang ini dan menahan saya untuk tetap di rumah bersama keluarga. Karena saya juga sadar bahwa sebentar lagi kehidupan akan berjalan seperti seharusnya. Liburan berakhir dan rutinitas awal saya yang begitu padat harus kembali saya jalani. Senin sampai dengan Sabtu yang menyita banyak waktu saya, terlebih jika ada kegiatan-kegiatan tambahan yang mengharuskan saya berangkat setelah Shubuh dan baru menapakkan kaki di rumah ketika langit sudah gelap. Sebuah Quality Time yang sangat berkualitas untuk saya dan keluarga. ^^

Yang kedua, dengan kenikmatan senggang seperti ini justru banyak targetan yang SEHARUSNYA dapat terpenuhi. Ya, SEHARUSNYA! Karena ternyata saya masih saja berkutat dengan kejenuhan yang membuat saya enggan keluar dari zona nyaman ini.

Terakhir, saya sangat berterima kasih kepada Allah yang telah menegur saya melalui ingatan terhadap twit seorang Facrul Nizar (@nizzarr). Semoga pahala senantiasa mengalir atas twit yang bermanfaat seperti itu. Terima kasih juga ya Allah akan nikmatmu selanjutnya yang justru menghadirkan sebuah inspirasi untuk postingan ini. Semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya. ^^


Saya teringat akan sepenggal lagu yang berjudul Demi Masa, entah siapa penyanyinya. Lagu ini menceritakan tentang pemahaman terhadap surat Al-Ashr - Demi Masa.. Lets Enjoy..
Demi masa..
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan yang beramal shaleh
Demi masa..
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran
 Gunakan kesempatan yang masih diberi semoga kita takkan menyesal
 Masa usia kita jangan disiakan karena ia takkan kembali
Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup.. sebelum mati

Allah sedang berbaik hati memberi kita kelapangan saat ini, jadi gunakan kesempatan sebaik-baiknya agar kita takkan menyesal, sebelum segala sesuatunya menjadi sempit dan memojokkan kita. Hantam kejenuhan anda dan keluarlah dari zona nyaman, sekarang juga!

02 Demi Masa.mp3

Rabu, 02 Januari 2013

Kembalikan Kebahagian Anak-Anak

Rabu, 02 Januari 2013..
2013.. Yaa, 2013.. Tahun sudah bertambah lagi, artinya waktu terus berjalan dan peradaban semakin maju. Kemajuan yang tak hanya menciptakan terobosan positif, melainkan juga meninggalkan banyak goresan negatif. Salah satu yang sangat disayangkan adalah perbedaan perilaku "anak-anak" dari jaman ke jaman.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa keadaan anak-anak Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan (hanya untuk yang peduli dan perhatian sih :p) Kalau bahasa kerennya mungkin "mengalami degradasi moral" huehehe wah wah bahaya banget nih mengingat berpuluh-puluh tahun ke depan nasib bangsa ada di tangan mereka.

Sewaktu berseluncur di dunia maya, dengan mengetikkan kata "perbedaan anak jaman dulu dan jaman sekarang" hasilnya cukup banyak lho, akan saya kutip beberapa di postingan kali ini. Let's enjoy! ^^




Dari 2 gambar di atas silahkan klik untuk memperbesar :D Sumbernya saya dapat dari sini. Saya cukp tertawa miris membacanya, kalau katanya bang haji Roma sih, T E R L A L U......


 2 gambar ini juga boleh diklik untuk memperbesar :) Saya ambil dari sini.. Penulis juga menyertakan beberapa perbedaan permainan yang dilakukan. Kalu jaman dulu, mainannya masih kelereng, benteng-bentengan, petak umpet, pokoknya tradisional dan asli laaah. Kalau sekarang? Internet, game online, tv, sudah jadi sahabat sehari-hari tuh :p

Sudah cukup review postingan orang lainnya, sekarang saatnya nge-share apa yang ada di pikiran-pikiran saya nih, boleh kan? ^^


Saya sangat setuju dengan dua cuplikan postingan di atas. Dalam realita perjalanan saya sehari-haripun, fenomena tersebut berungkali saya temui, bahkan melalui lingkungan terdekat saya. Dan saya rasa, saya pun terlibat dalam aksi perubahan ini. Tetapi saya bersyukur karena setidaknya saya masih sempat merasakan kebahagiaan orisinil yang memang menjadi hak bagi usia anak-anak. Bisa dibilang, saya (dan mungkin semuanya yang seumuran) cukup beruntung karena berada dalam masa transisi, tak terlalu mengarah pada golongan "jadul" tapi tak juga terlalu "gaul".,


Saya dan teman-teman masih sempat merasakan kejayaan Joshua, Tasya dan lainnya dengan tembang-tembang khas polosnya anak kecil. Kami juga sempat merasakan perjuangan permainan-permainan tradisional yang benar-benar menghasilkan peluh, luka dan noda.

Kalau anak sekarang? Figur Joshua dan penyanyi cilik lainnya tergantikan oleh boy band junior (yang dulunya saya kira itu boy band yang digawangi pemuda-pemuda tanggung), penyanyi cilik tak kalah banyak siiih, tapi ya gitu... Kok yang dibawakan berat banget? Cintaaaaa terus, memang sudah tahu artinya cinta, dek? Oh iya, sudah gaul se, sudah modern ya? Jadi seumuran TK aja udah paham th cinta-cintaan *jleb*


Ga hanya itu bos! Anak jaman sekarang nih, ga mau repot lho. Jadi kalau jaman kita lagi seru lari kejar-kejaran, bermain di lapangan, hujan-hujan sampai gelundungan guling-guling di tanah, mereka asyik aja di depan monitor seharian 25 jam! Nah lho padahal satu hari hanya 24 jam tapi ini bisa keimbuhan jadi 25 jam. Saking hebatnya tuh ;)
Saya punya beberapa contoh riil yang sangat dekat. Adik saya sendiri nih, sehari-harinya hanya menghabiskan waktu untuk bermain, orang tua sampai hampir nyerah tuh ngadepinnya. Bayangin ya, bangun tidur bukannya langsung ke kamar mandi ngapain gitu, eeh ini malah menghidupkan laptop duduk manis daaan bermain PB! PB? Apa itu? Yang saya tahu sih PB itu inisial guru fisika saya hehe :p Bukan ding, PB itu Point Blank salah satu game online yang katanya sangat membuat orang kecanduan. Selain PB, permainan favoritnya yaitu Baseball. Hanya dengan menekan tombol spasi, ia sudah bisa memukul bola dan menang! Heran, apa asyiknya sih? Enakan juga pegang tongkat baseball beneran, mukul, melihat seberapa jauh pukulan kita daaaaaan lari dan goooool! *Eh, itu sepakbola -,-.

Contoh kedua datang dari adik sepupu dan ponakan-ponakan yang masih kuecil-kecil.. Antara usia TK-SD kelas 2 laah~ Saya sedikit kaget waktu diajak bermain Play Station. Apa yang terjadi? Saya diajari bermain GTA (Grand Thef Auto) yang permainannya gak banget deh kalau untuk ukuran mereka, banyak adegan kekerasannya.. Lalu..... Smack Down, dan lagi-lagi saya diajari. -___- Tahu sendiri kan smack down itu permainan apa? Sudah nyiksa orang, banting-bantingan dan banyak perempuan-perempuan sexy nyaaa ~ Masih banyak lagi deh pokoknya permainan yang gak banget.

Contoh ketiga yaituuuuuu, lagi-lagi adik sepupu saya hehe. Walaupun usianya baru 6 tahun tapi pegangannya Ipad lho, saya saja yang sudah 17 tahun pegang Ipad baru punya dia hehe -,- Bisa mengoperasikan android, BB dan PC, keren gak tuh, saya saa biasanya kalau pinjem android dan BB teman masih agak linglung. Ini saya yang terlalu gaptek apa adik saya yang terlalu modern sih? -,-

Itu baru contoh kecil di sekitar saya, saya yakin di luar sana teman-teman pun sering sekali menemukan hal serupa. Ga kaget sih, karenapengaruh-pengaruh dari luar masuk terlalu jauh. Apalagi lewat peranan media yang tak bisa dipungkiri selalu berada di sela-sela waktu kita. Tayangan televisi, pengaruh teman, majalah, internet, tokoh idola, bahkan sampai buku tugas pun menggerakkan mereka.

Yang paling saya sayangkan adalah kurangnya figuritas yang mereka damba-dambakan, di sini lebih saya tekankan pada artis-artis cilik Indonesia. Orang-orang dewasa dan mengaku berpendidikan yang notabenenya menjadi otak pelibatan mereka dalam dunia entertaiment harusnya berpikir ulang, karena mereka sungguh mengorbankan moral dan pendidikan jutaan anak Indonesia. Bukan seenaknya mengemas acara yang terlalu alay hanya demi uang uang dan uang.

Mari kita cermati dan kupas sejenak.
1. Sinetron picisan yang banyak melibatkan anak
  ~ Saya tak habis pikir ketika secara tak sengaja saya menyaksikan sebuh adegan licik, jahat dan tak berperasaan yang dilakukan 2 anak perempuan kepada anak perempuan lain yang digambarkan sangat polos dan baik hati. Ya saya tahu pak, buk.. Memang peran antagonis dibutuhkan, tapi ya coba deh dikemas dengan cara yang lebih wajar dan mendidik untuk umur-umur mereka. Secara tak langsung sampeyan-sampeyan sudah melatih dan membiasakan kepribadian mereka dengan kekerasan, pikiran licik, dan cemooh-cemooh lho.
 ~ Ada juga adegan tentang anak seumuran (lagi-lagi) TK, sudah (maaf) memeluk, berpegangan tangan dan berciuman dengan lawan jenisnya. Yaaa jangan heran kalau di berita marak dengan kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.
2. Hilangnya lagu-lagu anak
  ~ Yang ini juga cukup berpengaruh lho. Dulu jaman saya, masih ada lagu-lagu yang mencerminkan kepolosan, keluguan dan kelucuan kita sebagai anak-anak. Bayak banget nilai positifnya, yang diajk untuk nabung, diceritain kalau nanti bisa ke pulau dewata asalkan nilainya bagus, diingatkan kalau bakalan ada  tikus dan kecoa cuma gara-gara jarang bersih-bersih, dan lainnya. Eeeh lagu sekarang sudah main cinta aja terus nanya facebook dan twitter. -___- Mbok ya disadari, kalau lagu-lagu begitu yang disajikan, terus didengarkan, dihapalkan, diikuti, didengung-dengungkan yaaaa lama-lama masuk ke alam bawah sadar dan memproduk mereka.

2 Hal tersebut masih secuil dari berbagai permasalahan calon pemimpin bangsa ini lho. Jadi jangan stag dan mundur untuk berbenah. Ini tugas kita semua, bukan hanya Pak Seto sebagai guru kesenian, komputer, sekaligus merangkap sebagai TU di sekolah saya. Ehm, bercanda ._.v maksud saya Pak Seto yang ketua Komnas perlindungan anak itu lhooo. Ya tugas kita semua, mulai dari bapak-bapak ibu-ibu yang sudah berumur, kakak-kakak yang sudah dewasa, teman-teman yang masih labil, dan adik-adik yang menjadi korban dan calon korban *eeeh*. Mereka adalah generasi penerus, jalan cerita mereka masih panjang, biarlah mereka mengukirnya dengan kebaikan yang harus kita tanamkan sejak mereka dini, di usia-usia mereka saat ini. Karena masa kecil adalah saat paling tokcer untk memasukkan data jauuuuh di bawah sadar mereka. Kembalikan kebahagiaan dan memori indah masa kecil mereka yang sudah terenggut arus globalisasi.


Salam semangat, salam perubahan.,
Wassalamualaikum ^^

Senin, 08 Oktober 2012

Pr: NYONTEK ; Ulangan:NYONTEK ; Tryout:NYONTEK (?)

Assalamualaikum Wr. Wb
Judul ini saya angkat melihat realita yang terjadi di masyarakat kita, khususnya di kalangan pelajar. Kebanyakan sumber berasal dari pengalaman pribadi sih, hehe ._.v

***

Sore tadi di tempat bimbingan belajar saya diadakan try out intern ke-3 pola snmptn. Untuk hari ini khusus materi TPA dan kemampuan dasar (matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris). Seperti biasa saya selalu staycool, diam membisu dan stuck pada kumpulan soal dan lembarr jawaban. Tanpa menoleh dan mengeluarkan barang satu hurufpun. Bukannya menyombongka diri, bukan pula menggambarkan bahwa otakku terlalu encer sehingga soal-soal tadi begitu mudah kulalui. Sebenarnya soal-soal tadi sama saja, sama susahnya. Tapi saya hanya berprinsip "Do it by my self!"

Maaf jika dalam keadaan seperti ini saya berubah menjadi egois dan acuh tak acuh. Tapi sungguh saya hanya memegang teguh prinsip ini karena saya yakin bahwa apa yang saya lakukan adalah benar.

Tetapi jujur, saya tidak habis pikir bagaimana bisa kelas menjadi gaduh, sangat gaduh. Okelah ini hanya sebuah "bimbingan belajar". Okelah ini hanya sebuah "try out". Tapi apakah harus dipermainkan dengan cara seperti itu? Tawa dan senda gurau yang tidak pada tempatnya, teriakan-teriakan yang memekakkan, "enam", "sepuluh", "a c b" dan sebagainya. Bahkan tentor pengawas pun sempat kuwalahan dan membiarkan pasar tradisional pindah ke kelas saya.

Bagi saya, try out adalah alat pengukur kemampuan. Tempat bimbingan belajar saya sudah berbaik hati mengevaluasi setiap try out yang kami lakukan, yang ditujukan agar kami mengetahui seberapa paham kami dalam menghadapi soal-soal snmptn? Agar kami tahu, subbab-subbab mana saja yang harus kami perdalam lagi? Namun sayang tindakan uji coba ini disalahgunakan oleh sebagian besar siswa. Saya berani berekspekstasi bahwa tak hanya siswa  di kelas bimbel saya yang meremehkan try out seperti itu. Karena dalam kenyataannya, try out mingguan yang diadakan di sekolah saya pun juga bernasib sama. Diikuti oleh ratusan peserta, tapi tetap dibumbui dengan aksi tanya jawab dan curi jawaban.

Bagaimana bisa evaluasi dan mengetahui kemampuan sendiri kalau yang diujikan adalah kemampuan orang lain?

Tak hanya try out, tetapi aksi menyontek yang sudah umum di kalangan pelajar juga mewarnai pelaksanaan ulangan baik itu ulangan harian, UTS, UAS, bahkan ujian yang setingkat nasional yang sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap tahun pasti selalu BOCOR! Hasil ulangan adalah indikator sukses atau tidaknya kita memahami tentang suatu materi, seharusnya itu yang dicari-cari dalam setiap ulangan atau ujian, bukan hanya sekedar angka 100 ataupun predikat LULUS!

Namun pada kenyataannya pelajar kita justru berlomba-lomba dengan segala cara gar mendapatkan nilai yang tinggi atau sebuah kata "lulus", Katanya, "biar bisa masuk undangan", "biar ga remidi" dan biar-biar yang lainnya. 

Inilah salah satu contoh sistem yang salah dan sudah mengakar kuat di masyarakat kita. Mendewakan nilai daripada tingkat pemahaman itu sendiri. Tentunya, tak hanya pelajar yang wajib disalahkan atas rusaknya mindset mereka, karena pada realitanya memang sistem menuntut "nilai" kita yang berbicara, bukan pemahaman dan ilmu.

Jika penerapan di lapangan adalah penerapan nilai yang berbanding lurus dengan pemahaman, artinya nilai itu didapatkan atas dasar tingkat pemahaman seseorang terhadap kompetensi yang diujikan, bolehlah "nilai" berbicara di atas segalanya. Tetapi dengan sistem seperti sekarang, apakah salah jika saya bertanya,

Kita sekolah mencari ilmu atau nilai?

Dibalik aksi ketidakjujuran dari try out dan ujian, dalam skala yang lebih rendah dan remeh lagi mungkn bisa ditemui di dalam proses pengerjaan tugas-tugas atau pekerjaan rumah. Tak dapat dipungkiri bahwa terkadang saya pun masih turut berperan di sini. Tak jarang ketika saya lupa atau buntu, dan deadline pengumpulan hanya tinggal menghitung detik, saya langsung saja merampok pekerjaan teman dan menyalinnya dengan kekuatan sepuluh tangan.

Saya sadar jika hal besar pasti dan selalu bermula dari hal yang kecil. Saya juga sadar bahwa saya belumlah sempurna dan terbebas dari segala tuduhan semacam ini. Namun melalui tulisa sederhana ini, saya mengajak seluruh elemen yang mau berperan untuk merubah kebiasaan nyontek kita yang sudah menjamur, coba  mulai dari yang remeh dulu. Pekerjaan rumah misalnya, kemudian diikuti dengan kejujuran selama try out dan ulangan :) Pasti hasilnya akan lebih baik, dan bagaimanapun tingkat kepuasan akan mencapai maksimal ketika hasil yang kita dapat adalah hasil jerih payah kita sendiri, bukan uluran tangan dari orang lain. Iya kalau uluran itu halal, nah kalau haram seperti ini?

Yuuk, saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling mengingatkna dalam kesabaran. Jika ada kata yang kurang berkeknan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Atas perhatian saudara-saudara saya ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum

Sabtu, 18 Agustus 2012

Contoh Naskah Pidato

Assalamualaikum Wr. Wb

Pada hari terakhir kegiatan belajar mengajar efektif terakhir di sekolah saya minggu lalu, Kamis (9/08/2012), saya dan 31 teman XII P-3 Smadabaya diberi tugas untuk membuat sebuah naskah pidato dengan tema bebas.
Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum yang biasanya dibawakan oleh seseorang yang memberikan orasi dan pernyataan tentang suatu hal yang penting dan patut diperbincangkan.
32 naskah pidato yang terkumpul tentu berbeda satu dengan lainnya. Kami hanya diberikan waktu selama kurang lebih satu jam untuk merumuskannya, berbeda halnya dengan pidato-pidato penting pejabat tingkat atas yang sekiranya membutuhkan otak yang cukup encer dan waktu beberapa hari beberapa malam agar pidatonya menjadi sangat-sangat berkesan.
Pidato yang saya buat bertemakan Sumpah Pemuda, kurang lebih begini isinya.

Assalamualaikum Wr. Wb
Hadirin yang berbahagia, pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmatnyalah kita bisa berkumpul di tempat ini untuk memperingati 84 tahun lahirnya Sumpah Pemuda.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, yang telah mengeluarkan kita dari jaman kegelapan menuju jaman yang terang benderang seperti saat ini.
Terima kasih yang sebesar-besarnya saya tujukan kepada pemuda-pemudi generasi emas ibu pertiwi yang telah berkenan menyediakan waktunya untuk turut memeriahkan acara kali ini.
Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Sumpah Pemuda lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 sebagai awal kesatuan pemuda-pemudi Indonesia yang sebelumnya berjuang melalui daerah asal masing-masing. 84 tahun yang lalu, berbagai pemuda dari sabang sampai merauke berbondong-bondong menghadiri kongres Pemuda yang dipimpin oleh Sugondo Joyo Puspito, hingga akhirnya melahirkan sebuah sumpah, ikrar setia yang menggetarkan siapa saja yang mendengarnya. Sederhana, tapi sarat akan makna. Berbangsa satu, bertanah air satu, berbahasa yang satu, Indonesia!
Pemuda-Pemudi sekalian,
Para perumus sumpah pemuda itu sudah berhasil merealisasikan sumpahnya, menghapuskan perjuangan kedaerahan dan memulai kembali berjuang atas nama persatuan, hingga akhirnya terciptalah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia 17 tahun kemudian. Namun apakah sumpah itu gugur begitu saja?
Tidak. Tahun ini kita memasuki usia kemerdekaan ke 67, tapi pada realita yang terjadi di lapangan, kemerdekaan yang kita capai belumlah mencapai taraf kemerdekaan yang hakiki. Lantas siapakah yng harus berperan selanjutnya? Phlawan-pahlawan terdahulu kita sudah gugur sebagai bunga putra bangsa, dan nasib bangsa ini selanjutnya berada di tangan kalian, wahai generasi emas ibu pertiwi!
Jangan jadikan sumpah pemuda sebagai sejarah masa lalu yang hanya menjadi bahan pelajaran, jangan biarkan sumpah pemuda hanya tertulis indah sebagai pajangan di ruang-ruang kelas. Tapi jadikan itu sebuah motivasi besar untuk kembali bersatu dan mengadakan perubahan terhadap bangsamu, terhadap tanah airmu.
Pemuda-Pemudiku,
Tonggak kemajuan bangsa ini ada di tangan kalian, singsingkan lengan baju kalian dan bawa Indonesia menjadi "ada" di kancah Internasional, buktikan kepada mereka di luar sana bahwa kita bukan bangsa bodoh yang tertinggal, buktikan bahwa bangsa kita juga layak untuk dihormati dan dihargai. Buktikan kepada mereka yang telah gugur di medan pertempuran, bahwa darah mereka tak terbuang sia-sia.
Kurang lebih hanya ini yang bisa sampaikan, kami selaku generasi tua menitipkan ibu pertiwi di tangan kalian, entah beberapa tahun ke depan buatlah mimpi-mimpi kami menjadi nyata.
Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang salah dan tidak pada tempatnya,
Wassalamualaikum Wr. Wb

Pidato ini dibuat tak lebih dari sepuluh menit, jadi saya mohon maaf jika di dalamnya masih terdapat kekurangan.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Rabu, 18 Juli 2012

Cerita Anak SMA: Lebih dari sekedar Putih dan Abu

Assalamualaikum Wr. Wb.
Mengingat gencarnya usaha blogger Indonesia untuk memperbaiki konten yang terkait dengan "Cerita Anak SMA", saya ingin turut berpartisipasi dengan menuangkan buah pemikiran saya yang berhasil berkembang karena sebuah tweeet sederhana yang masuk di timeline twitter.
Begitu tulisan seperti ini muncul di timeline twitter saya, lampu seperti menyala begitu terang tepat di atas kepala saya. Menemukan sebuah inspirasi yang memang sudah saya gali sedari tadi. Yap, saya langsung sepakat dengan tweet di atas.
Memang, kehidupan SMA itu bukan sekedar putih abu-abu. Kehidupan SMA itu seluruh spektrum warna! SMA, pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa "Masa paling indah adalah masa-masa di SMA?". Saya yakin mayoritas orang akan mengangguk dan sangat mengiyakan pepatah lama ini.
SMA, masa dan tempat bagi para remaja yang sudah mulai beranjak menuju dewasa. Fase yang penting. Yang tak bisa dijelaskan hanya dengan dua kata: Putih Abu-abu.
Pernah melihat sinetron-sinetron yang sekarang menjamur? Berbagai judul dengan membubuhkan dua kata manis tersebut, (lagi-lagi) Putih Abu-Abu. Yang ceritanya ya tak jauh dari nyanyi - geng - pacaran - selingkuh - berantem - putus. Menceritakan keadaan kelas yang di dalamnya tak pernah ada pelajaran. Dan saya pikir, masa SMA lebih dari itu!
SMA mengajarkan kita untuk mengenal akademik, ekstra, organisasi, bahkan cinta dan membagi mereka dalam satu takaran yang pas untuk menggabungkan seluruh spektrum warna dan menciptakan keindahan luar biasa dalam sepenggal memori hidup kita.

Sabtu, 09 Juni 2012

Berawal dari In**** : Tempat Pemakaman Elite Ramai Dipesan

Assalamualaikum Wr. Wb
Bismillaahirrahmaanirraahiim, :))
Sore tadi, saat sedang asyik berbincang santai dengan ibu, saya sempat dikejutkan oleh sebuah tayangan salah satu infotaiment tentang "Pemakaman Elite di Karawang"
Tempat pemakaman ini bahkan justru "tak layak" disebut tempat pemakaman. ckkckckckck..
Masih dengan rasa heran plus penasaran yang mengebu-gebu, saya memutuskan untuk berkelana di google, dan waw! Hasilnya benar-benar mengejutkan sekali.
Apa yang terlintas dalam benak anda setelah melihat gambar di atas? Pasti anda tidak menyangkan jika gambar tersebut adalah potret dari sebuah pemakaman. Hahaha, begitu juga saya. Tapi pada kenyataannya, tempat yang luasnya mencapai 500 hektar tersebut memang difungsikan sebagai makam. Tak hanya makam, area yang didukung dengan pemandangan bukit, rerumputan hijau dan bunga-bunga bermekaran bak setting film-film Bollywood ini didukung oleh berbagai macam fasilitas lainnya seperti: jogging track, kolam renang, danau, ruang serbaguna, restaurant bahkan tempat ini juga bisa menjadi salah satu ajang foto sampai pesta pernikahan. Jaman memang benar-benar sudah berkembang. Tempat pemakaman yang dulunya terkenal "angker dan menakutkan" kini bisa menjadi tak kalah indah dengan taman-taman rekreasi.
Tak sedikit selebriti dan pejabat-pejabat kita yang sudah mulai memesan "tempat" di pemakaman mewah ini, bahkan yang diberitakan dalam infotaiment tersebut, ada yang memesan area seluas 3000 m (yang sejatinya bisa digunakn untuk kurang lebih 70makam) hanya untuk 2 makam saja. Tentunya dengan harga yang tidak biasa!
Mengunjungi alamat web ini membuat saya bertambah waw, waw dan waw sekali! Berikut akan saya kupas inti dari apa yang telah saya baca:
1. Ternyata area pemakaman dibagi 3 menurut agama.
   a. Universal Garden (Kristiani)
   b. Garden of Prosperity and Joy
   c. Five Pillars Garden
2. Fasilitas-fasilitas yang sudah saya sebutkan di atas
3. Kelebihan pemakaman"
  a. Permanen, tanpa biaya perawatan
  b. Kepemilikan bisa dialihkan/dijual
  c. Keamanan 24 jam, 7 hari / minggu
  d. Pembayaran bisa dicicil sampai 50kali
  e. Gratis asuransi maks. usia 60 tahun
  f. Akses mudah
4. lokasi pemakaman
  a. Single Burial (untuk 1 orang, tanpa bangunan)
  b. Semi Private (untuk 2-6 orang dengan tembok pembatas)
  c. Private Estate (untuk 4 orang dengan tembok pembatas dan dilengkapi meja, bangku serta  pot bunga)
  d. Family Estate (dalam satu kawasan khusus)
  e. Island Estate (dalam suatu kawasan khusus berbentuk pulau-pulau dengan design sendiri)
  f. Mauseolum (vertikal)
  g. Colombarium (untuk abu jenazah)
  h. Memorialization Wall (dinding bertuliskan namaa orang terkasih)
5. Biaya (sengaja pakai angka semua biar kelihatan nolnya banyak)
  a. Area kristen
    - termurah : Rp 19.000.000
    - termahal : Rp 3.400.000.000
      (bahkan ada yg sudah habis terpesan)
  b. Area Islam
    - termurah : Rp 19.000.000
    - termahal : Rp 1.800.000.000
  c. Area Tionghoa
    - termurah : Rp 20.000.000
    - termahal : Rp 1.200.000.000
Sementara, dii tempat lain ada lho tempat pemakaman yang dijadikan rumah oleh ibu-ibu tua yang hidup sebatang kara, ga punya uang untuk mendapat rumah yang lebih layak. Sayangnya saya tak berhasil mendapat gambar maupun video tayangan infotaiment tadii, saya juga browsing juga sepertinya ga ada. Tapi saya sempat menemukan beberapa contoh makam yang berbeda jauh dengan kondisi makam elite.
makam yang berada dalam kubangan
 

Dari kenyataan ini memang terlihat kontras sekali. Di satu sisi tempat pemakaman tertata rapi, tersedia lengkap dengan berbagai macam fasilitas namun di sisi lain tempat pemakaman bahkan dijadikan sebuah tempat tinggal, tempat pemakan sudah tak terawat hingga terendam air kubangan.
Mungkin, mereka yang lebbih memilih tuk menginvestikan hartanya demi sebuah tempat peristirahatan yang terkesan indah, nyaman dan mewah hanya belum mengetahui bahwa justru tempat itulah yang akan membuat masa penantian mereka menjadi sangat tidak nyaman sekali. Mungkin mereka masih belum tahu, walaupun dengan jutaan bajet yang sudah dikeluarkannya, takkan mampu membantunya tuk menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Yah, merka hanya merasa lebih "tenang" jika suasana pemakamannya tak menakutkan seperti itu, mengapa tak sekalian free wi-fi, plus hiburan musik 24 jam ya? Lumayan tuh, mereka tak akan kesepian di sana.
Padahal kenyataannya, senikmat apapun fasilitas kuburannya, sebanyak apapun uang yang dikeluarkannya, jika memang perbuatan semasa hidupnya jauh dari kebaikan, semuanya menjadi percuma. Bahkan bisa jadi orang miskin yang kuburannya sempit berdesak-desakan bisa merasakan dunia barzah yang lebih nyaman, damai dan tenang dengan berbekal iman dan taqwanya semasa hidup. :3
Bukankah sudah jelas Al-Qur'an memberitahu kita bahwa Allah tidak menyukai pemboros? Dan pemboros-pemboros itu merupakan saudara-saudara setan? Sedangkan setan sendiri sangat ingkar kepada Allah. (inti dari QS ke 17 ayat 27)
Nah lho, jika Allah sudah tidak suka, bagaimana bisa menjadi tenang? Benar kan? :) Saya berani bilang jika ini adalah pemborosan besar-besaran! Jelas sekali, puluhan, ratusan juta bahkan milyaran uang (sekali lagi ini uang, iya uang! bukan daun) rela mereka keluarkan demi fasilitas yang tak akan bisa mereka rasakan. Bukankah ini suatu kemudharatan? Toh semahal apapun itu, rasanya pasti sama saja. Itu di dalam tanah, ga mungkin ber ac juga kaaaaan, please deh. --" Gemes sendiri jadinya. Yap, rasanya pasti sama saja meskipun yang mewah ataupun yang di kubangan, selama yang mereka tanam semasa hidup sama. Tapi tentu saja berbeda, ketika yang mereka tanam berbeda. Kan sudha menjadi sunatullahnya, kita akan menuai apa yang telah kita tanam! Nah lho camkan itu baik-baik.
Terus, buat yag berduit, harus investasi ke mana dong?
Weits, banyak saudara-saudara, banyak jalan menuju surga!
Kan bisa tuh, uang yang nolnya banyak ituuuuu dipakai untuk membangun masjid, sekolah, panti asuhan. Subhanallah, ga main-main lho itu.. Selama tempat yang anda bangun masih berdiri dan manfaatnya masih saja mengalir, selama itupula pahala yang akan anda terima tak berhenti tertuang di catatan anda.
Ini Indonesia bung! Masih banyak  lho yang ga punya rumah *hikscrying, masih banyak yang tidur di gerobak-gerobak, di rumah kardus, bahkan yang cuma beralaskan koran di kolong jembatan atau di trotoar-trotoar. Kenapa coba artis dan pejabat kita ga ngeluarin tuh uang sebanyak itu untuk membantu mereka? :((






Demikian sekilas opini saya, semoga bermanfaat ^^v
Wabillaahitaufiq wal hidayah, wa ridho wal inayah,
Wassalamu'alaykum Wr. Wb :))




















































Minggu, 27 Mei 2012

Euforia Kelulusan Siswa SMA

Assalamu'alaikum Wr. Wb ^^
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Nampaknya, bau-bau kelulusan masih begitu kuat tercium di seantero Indonesia. Ya iyalah! Kan baru kemarin pengumuman kelulusan ujian nasional tingkat SMA diumumkan. Bahkan snmptn jalur undangan pun ikut menambah dagdidug rombongan siswa kelas XII, padahal pengumuman resmi baru di buka esok hari (28/05/2012).
Tentu saja kata "LULUS" menjadi hal yang sangat dinanti mereka. Satu kata yang dapat membayar lelah perjuangan selama hampir 3 tahun bersama seragam putih abu-abu. Dan bisa ditebak, di mana ada kebahagiaan, di sana pula teradi berbagai macam euforia yang tak berujung. Jenis euforia yang paling banyak digandrungi oleh mantan pejuang unas ini tak lain dan tak bukan adalah..... KONVOI + CORAT-CORET SERAGAM SEKOLAH

Yap, nampaknya dua kegiatan yang saling melengkapi itu sudah melekat dan menjadi tradisi turun menurun bagi masyarakat Indonesia, tak terkecuali di Surabaya yang panas ini. Padahal, jauh-jauh hari sebelumnya Dinas Penndidikan yang juga berkoordinasi dengan kepala sekolah-sekolah di Surabaya pun sudah melarang dengan tegas konvoi kelulusan, tapi apalah dikata untuk remaja Indonesia? "Peraturan dibuat utuk dilanggar" begitu kata salah seorang teman saya. Ha? Dilanggar? Bukannya peraturan dibuat untuk dipatuhi agar tercipta keseimbangan sistem dan berujung pada ketertiban serta kedamaian? Sayangnya itu hanya teori, karena sampai saat ini masyarakat Indonesia belum mampu tuk merealisasikannya.
HARUSKAH? PERLUKAH? PENTINGKAH? Bahagia boleh, tak ada yang melarang untuk berbahagia, namun juga perlu diperhatikan nilai positif dan negatifnya juga kan? coba kita lihat, apa sih nilai positif dari euforia yang berlebihan seperti itu? Paling-paling hanya sebagai pelampiasan rasa bahagia yang memuncak kan? Hanya sekedar memamerkan kelulusan? Padahal masih banyak cara untuk mewujudkan rasa syukur akan kelulusan lho, ga harus ramai-ramai konvoi ugal-ugalan yang berbahaya atau corat-coret baju, kasihan sekali bajunya kan bisa disumbangkan, masih banyak lho murid-murid yang memiliki semangat juang tinggi untuk sekolah tapi g punya baju :( Daripada mubadzir, kan enak kalau disumbangkan. Membantu orang lain, nabung paahala :))
Daripada waktu terbuang untuk menambah kemudharatan, mengapa mereka tak menghabiskan waktu yang masih dimiliki untuk kembali memikirkan masa depan, merancang strategi baru tuk perjuangan selanjutnya? UNAS BUKAN AKHIR MEN! JALAN MASIH PANJANG! Atau jangan-jangan, sama sekali tak terlintas dalam benak mereka mau ke mana mereka setelah ini? Mau jadi apa mereka kelak? Hmm, kasihan yah.. Padahal kan mereka sudah susah payah menunjukkan pada dunia bahwa mereka telah LULUS UNAS! Padahal kan mereka sudah rela mengorbankan seragam putihnya menjadi amuk cat ataupun spidol warna-warni? Tapi apa gunanya itu semua jika nantinya hanya menambah daftar sampah dibu pertiwi? Ga malu ya? Hmm, kasihan kasihan kasihan. :(
Belum lagi yang -setelah konvoi- harus pulang dengan tubuh yang sudah kaku dan tak bisa digerakkan seperti berita baru-baru ini:
TEMANGGUNG - Seorang pelajar, Sutri Usud Nur Arif (17), siswa SMK Swadaya Temanggung tewas ketika mengikuti konvoi usai pengumuman kelulusan tingkat SMA/MA/SMK, Sabtu (26/5/2012). Saat konvoi arak-arakan sepeda motor korban mengalami kecelakaan di Jalan Raya Temanggung-Parakan.
Zaenal (34), seorang saksi mengatakan, kejadian berlangsung sore saat banyak siswa yang baru dinyatakan lulus ujian nasional menggelar konvoi. Korban tewas setelah terjatuh dari sepeda motor Yamaha Vega bernomor polisi B 3156 EW yang dikendarainya. Tepatnya saat para pelajar yang konvoi dari Parakan ke Kota Temanggung sampai di Desa Danupayan, Kecamatan Bulu, Temanggung. (tribunnews)
Tak hanya menarik korban dari pelaku konvoi sendiri, sebenarnya mereka sangat mengganggu jalanan yang sudah ramai dan padat menjadi semakin bising. Bahkan seorang ibu yang tak bersalah ikut terseret menjadi korban! 
Seorang warga menjadi korban tabrak lari para siswa SMA yang sedang konvoi perayaan kelulusan di Buleleng, Bali, Sabtu (26/5). Polisi yang medapat laporan kecelakaan tersebut kemudian mengamankan puluhan siswa untuk dicatat identitasnya dan dibawa ke Mapolers Buleleng. (tvonenews).
Hmm, miris bukan? Kelulusan yang seharusnya menjadi kabar bahagia, disyukuri dengan cara yang salah :(. Padahal di lain sisi, masih ada saudara mereka yang tidak lulus. Masih ada saudara mereka yang justru menangis bahkan jatuh pingsan dibalik tawa dan teriakan HORE mereka!
Bukankah realitas ini justru semakin menunjukkan kebobrokan moral generasi bangsa kita? Tapi mau bagaimana lagi? Memang begitu kenyataannya, semua sudah terjadi! Lantas, haruskah kita tetap berdiam diri? Mengulang kembali tradisi yang sudah sepatutnya kita tinggalkaan?
Pasti banyak yang mengharapkan perubahan dibalik kerusakan-kerusakan ini. Dan itu tugas kita, sebagai generasi selanjutnya untuk merealisasikan harapan-harapan mulia mereka. Bukan jamannya lagi sekarang lulus SMA konvoi ugal-ugalan di tengah jalan, bukan jamannya lagi lulus SMA coret-coret baju penuh warna. TIDAK! Yang ada, setelah lulus SMA justru tabungan pahala kita bertambah :) Baju seragam dan buku-buku SMA yang sekiranya sudah tak digunakan lagi diberikan kepada yang membutuhkan, itu baru mantan pejuang unas yang hebat! :D  
Ingat, unas bukan akhir lho! Masa depan menunggumu tuk menjadikannya lebih baik! So? Jangan lagi habiskan waktumu di jalanan untuk menyetor nyawa, gunakan kesempatan yang ada untuk persiapan jalan yang lebih jauh dan berkelok di depan.
sumber: http://luth-outsider.blogspot.com  
Hamasah! ^^v. SEMANGAT PERUBAHAN :D
Cute Purple Rain drop