Social Icons

Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Oktober 2015

Nyontekin Apa Salah?

Nyontek? Nyontekin? Kata yang sudah tak asing di telinga kita. Mungkin tak hanya katanya saja yang akrab, bahkan sudah kita terapkan sehari-hari. Hayooo?

*gambar dari http://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/553031100423bd7e368b4567.jpeg?t=o&v=760 *


Berawal dari iseng stalking timeline facebook dan menemukan sebuah curahan hati status yang agak menggelitik, maka lahirlah tulisan ini. Ga ada maksud menyinggung atau menyindir siapapun, hanya ingin mengisi lembar halaman ini agar tak kosong #apasih

Oke to the point aja. Status tersebut berisi argumentasi penulis akan berbagi ilmu. Berbagi ilmu apa? Yang jelas dong!!! Oke oke akan saya perjelas, yg dikhususkan oleh penulis adalah keuntungan dari berbagi ilmu. Bahwa sejatinya ketika kita berbagi ilmu, ilmu kita tak akan sedikitpun berkurang, justru akan semakin tertanam pemahaman dengan baik dan bahkan bertambah. Penulis pun menenangkan kita, bahwa ketika kau memberi ilmu, namun nilai yang ternyata kalian dapat lebih rendah dari pada mereka yg kalian ajari, mereka yang kalian bantu, sungguh jangan khawatir ataupun kecewa. Karenaa hal itu jauh lebih baik dari pada kalian membanggakan nilai di atas kertas yang tinggi namun ilmunya hanya disimpan sendiri. (tentu saja penulisan dan bahasanya tidak persis seperti ini)

Apakah saya menentangnya? Tidak. Apakah saya menyalahkan argumentasi  di atas? Tidak. Justru saya acungkan jempol-jempol saya untuk argumen yang memang benar tersebut. Ya, saya sangat setuju dengan pernyataan saudara penulis di atas, apakah arti ilmu dan pengetahuan jika hanya kita yang menikmatinya? Apakah arti paham jika kita tak mengajarkan dn mengamalkannya? Bukankah Rasul kita sendiri berpesan agar kita senantiasa menyampaikan apa yang kita tahu (tentunya yang benar dan baik) walaupun hanya satu ayat?

Lantas apanya yang menggelitik? Yang saya sayangkan di sini adalah hashtag atau tanda pagar di akhir curhatan sang penulis. Status itu diakhiri dengan hashtag 
#Refleksi UAS, Nyonteki apa Salah
Dari kaca mata saya pibadi, nyontek dan menconteki adalah salah.

*gambar ambil dari https://pbs.twimg.com/media/CEkuWa4UMAAxXRR.jpg *


Sudah jelas itu UAS, atau umumya ujian. Yang pasti diikuti dengan peraturan "kerjakan sendiri" , "dilarang mencontek", dan lain sebagainya. Sekalipun bersifat open book atau open laptop, yang namanya ujian tetap saja dilarang mencontek dari orang lain. Kalau boleh contekan, boleh keja sama, mungkin itu hanya sekedar latihan.

Ujian adalah alat untuk mengukur kemampuan. Jika mencontek, lantas apanya yang mau diukur? Kemampuan teman? Kemampuan bertanya? Kemampuan melirik?
Bisa dibilang, saya priadi yang cukup keras jika sudah urusan contek mencontek. Bahkan dulu ketika masih mengenakan seragam putih-merah, saya masuk ke kategori anak alay yang ketika ulangan meja dikelilingi oleh pagar sederhana dari buku.
Hal ini tak lepas dari didikan orang tua saya yang cukup keras, sejak dulu saya sudah ditanamkan untuk tidak mencontek dan memberikan contekan. Bahkan bapak saya pernah bilang, lebih baik saya mendapat nilai merah dari pada nilai dengan kepala 9 atau bahkan 10 tapi hasil mencontek. Dan benar saja, sekalipun nilai saya hanya berkisar di kepala 3 atau 5, saya tidak pernah dipukul dan dijewer, dimarahi saja tidak.

Jika ketika ujian saya tidak bisa, sudah buntu sebuntu-buntunya, sudah merenung, menghayati dan meminta ilham tak kunjung datang, ya ujung-ujungnya pasti asal saja menyilang apapun, menghitamkan apapun, a, b, c atau d bagi saya sama saja Jika essay saya hanya mengandalkan kemampuan mengarang bebas saja.

Namun ternyata, yang susah bukan melindungi diri dari mencontek, tapi melindungi diri dari memberikan contekan. Ya, kadang teman terdekat memanggil-manggil, meminta pencerahan atas kebuntuannya (padahal diri ini sendiri juga buntu). Kalo dicuekin biasanya jd rasan-rasan, kalo dibantuin kok ya gimana gitu ya, ini kan untuk mengukur kemampuan diiri masing-masing, bukan kemampuan gabungan -,-. Jadinya ya main tega-tegaan deh. Maaf ya teman-teman :(

Sekarang mari kita kembali ke status yang mengagumkan tadi....

Berbagi ilmu, menjawab dan menjelaskan hingga ke detail trkecil, bahkan membantu sebesar-besarnya hingga orang lain paham dan jauh lebih paham dari kita 100% tidak salah. Orang lain paham, kitapun semakin paham. Ini simbiosis mutualisme bro! Jadi ga usah khawatir

Tapi.. tentunya hal ini diharamkan ketika ujian. Ketika ujian lho ya. Jadi sebelum ujian ya sah-sah aja bahkan jika kita memang mampu, ya HARUS dilakukan. Kapanpun itu, kalau memang orang lain membutuhkan kita yang kebetulan lebih dulu paham, ya harus dibantu toh, selama kita bisa dan mampu. Selesai perkuliahan/pelajaran,ketika belajar kelompok,  sebulan/seminggu/semalam bahkan sejam sebelum ujian, ya silahkan. Tidak ada yang melarang

Terus bagaimana dengan poin kedua?
Jika kita sudah mengajari dan berbagi, tapi ternyata nilai di atas kertas kalah dengan si doi :""""

Kalau kalian ngajari dan berbagi jawaban ketika ujian, ya salahmu bro! Itu kebodohanmu sendiri! Bisa jadi karena kalian sendiri yang kurang teliti, kalian yang meremehkan, jawaban kurang sempurna, dan sebab-sebab lain.
Tapi yang nyebelin itu, bisa juga karena si doi cuma ga bisa 2 dari 50 soal, terus tanya kalian, bener lagi. Sedangkan kalian cuma bisa 45 soal, 5 lainnya ga nyontek, sekalinya nyontek dikasih jawaban yang salah. Ya jelas niainya kalah. *sebelngga? sebel banget dong ya*

Tapi, kalau kalian mengajarinya dengan cara dan jalan yang benar (sebelum ujian), ya tetap salah kalian sih, masa salah ibu bapak kalian *glodak*.
Lho, kok masih salah sih? Karena memang manusia tempatnya salah dan khilaf :D
Iya, sama aja salah kalian, bisa jadi karena kalian juga kurang teliti, kalian meremehkan karena merasa bisa, jawaban hanya seadanya alias kurang sempurna, sementara doi-doi yang kalian bantu belajarnya itu terus belajar karena masih merasa "kurang bisa".
Harusnya ga ada rasa sebel, mangkel dan sebagainya.
Yang ada justru rasa kebermaknaan, ikut senang karena apa yang kita ajarkan bermanfaat, ternyata apa yang kita lakukan bisa membantu orang lain, dan menjadi cambuk sendiri untuk tidak selalu merasa bisa dan cukup untuk belajar.

Memang nilai bukan segalanya, konsep dan pemahaman yang kita dapat jauh lebih berharga dari pada deretan angka yang menghiasi lembar ujian kita. Tapi tak bisa dipungkiri lingkungan menuntut nilai untuk senantiasa diagung-agungkan.
Tapi yang saya tahu,
hasil tidak akan mengkhianati usaha
Jika usaha untuk meningkatkan pemahaman dan kompetensi terus diperjuangkan, maka hasil akan linier dengan besarnya perjuangan itu. (Ada yang setuju? :D)

#Nooffense ya..
Sepertinya saya sudah berceloteh terlalu panjang, hehe...
Biasanya sih kalo kaya gini dibilangnya sok pinter, caper, pelit, dan sejenisnya. Maklum lah, lingkungan dan budaya kecurangan di negeri ini sudah mengakar. Jadi justru yang “berbeda”lah yang dianggap aneh dan dijauhi. :v

Ada sedikit oleh-oleh nih,
*gambar diambil dari http://4.bp.blogspot.com/-dFyPi7w4TvA/U0Pq8vjhMAI/AAAAAAAAI3w/lhurzBCKPjI/s1600/IntegrityOprahInd.jpg *

Rabu, 28 Mei 2014

Dihujani Kenangan

Eeeeettts, udah ga pernah muncul, sekalinya muncul judulnya alay-alay galau melow gimanaaa gituuuuu -,-
Ampuuunn qaqaaa, emang lagi galau sih :( dikit tapi dikiit kook seriusan deh dikit banget..

Yaaah, setelah berbulan-bulan lamanya blog ini dianggurkan akhirnya aku datang lagi :) Mumpung ada waktu nih, jadi boleh lah yaaa coret-coret sedikit di sini hehe

Kemarin timeline twitter, line, facebook dipenuhi dengan ucapan syukur dan euforia pemenang SNMPTN tahun ini. Ya, adik-adik kelas 12 SMA yg berhasil diterima di perguruan tinggi negeri pilihannya tanpa harus mengikuti rentetan tes lagi. Dan itulah sumber kegalauankuchiks :'(

Malam kemarin mengingatkanku pada memori setahun silam, saat aku berada di posisi yang sama dengan mereka sekarang ini. Aku gagal di sana saudara-saudara, dan kemudian diikuti kegagalan di jalur satunya lagi, yang merubah 180 derajat haluanku hingga akhirnya sekarang di sini, menjalani hari-hari baru di luar rencana awal.

Menyesal? Ya
Marah? Ya
Sedih? Ya
Bahkan terkadang masih sering mengutuk diri sendiri dan berandai-andai untuk kembali ke masa lalu.
Nyesek, nyesek banget. Apalagi tiap membuka berkas-berkas yang menceritakan target dan rencanaku yang dulu, yang sudah tersusun rapi, dengan mimpi yang tinggi nan membara. Ditambah lagi ketika mendengar dan melihat cerita dari mereka yang berlari di sana, rasanya ingin sekali berteriak dan kembali bersama mereka.

Yaa, tapi mau bagaimana lagi? Karena itu salahku sendiri, dan untuk ke sinipun adalah keputusanku sendiri. Karenaku yang terlalu pengecut memperjuangkan itu semua.

Berbulan-bulan di sini memang masih belum bisa membuatku move on sepenuhnya, tapi yang kutahu, ini jalan yang telah kupilih dan harus kupertanggungjawabkan nantinya. Hanya bagaimana jalan ini tetap mengantarkanku pada karya yang tak kalah dari mereka. Karena hanya jalanku yang berubah, bukan cita-citaku

Selasa, 10 Desember 2013

Bersyukurlah

Bersyukur
Hal yang sangat mudah untuk dilakukan, tak mengeluarkan biaya malah berjuta manfaatnya
Kecil, muda, tua
Laki-laki dan perempuan
Kaya maupun miskin
Semua orang dapat melakukannya
"sebenarnya" sih..

Tapi dasar manusia
Memang dasar manusia
Nikmat begitu banyak tak sedikitpun syukur terucap

Waktu yang terus bersamanya,
Sehat yang senantiasa menyelimutinya,
Keluarga yang selalu menemaninya,
Kehidupan yang dapat mencukupinya,
Tuhan yg tak pernah lelah mengasihinya,

Jangankan disyukuri,
Mengingat saja ia tak sempat
Entah jika nanti hilang tak bersisa
Yang ada sesal
Mungkin tak bisa terima

- Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? -

Kamis, 28 Maret 2013

Kata Remaja tentang Politik


“Politik”, satu kata yang sudah menjadi tren masa kini, terutama di Indonesia yang kita cintai ini. Hampir seluruh lapisan masyarakat tahu, bahkan tak jarang politik menjadi buah bibir di mana-mana. tetapi, pada kenyataannya hanya segelintir orang yang benar-benar paham dan mengenal hakikat “politik” yang sesungguhnya.
Politik dalam arti luasnya adalah pengaturan urusan masyarakat. Tidak ada yang salah bukan dengan politik? Yang salah di sini adalah cara pendahulu-pendahulu kita dalam melaksanakannya.
Di Indonesia, identitas politik sudah tercemar. Pihak penguasa secara tidak langsung menanamkan bahwa politik itu korupsi, politik itu menyuap, politik itu kotor, politik itu rekayasa, politik itu kejam, dan itu-itu lain yang tentunya mengandung unsur keburukan. Pada akhirnya, paradigma yang seperti itu mengantarkan kita menjadi masyarakat yang acuh tak acuh terhadap dunia perpolitikan. Terlebih lagi untuk remaja, pandangan mereka yang salah terhadap politik, menurunkan kesadaran untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.
Padahal, tanpa kita sadari, kehidupan kita secara tidak langsung selalu dipenuhi dengan politik, bahkan kita sendirilah yang melakukan aksi politik tersebut. Sesederhana itu.
Jadi sangat mustahil jika ada pernyataan yang melarang generasi muda untuk berpartisipasi di dunia politik, bahkan dalam takaran partisipasi yang sangat minim. Yaitu peduli terhadap realita dan menjadikannya bahan diskusi sehari-hari.
Politik dianggap momok dan kutukan yang seharusnya tak boleh disentuh oleh pemuda-pemudi kita. Generasi-generasi tua menganggap kita –para remaja- masih anak-anak dan tidak tahu apa-apa tentang politik, apalagi masalah-masalah politik di Indonesia yang terbilang cukup kompleks.
Menurut saya, justru ketika generasi muda berbicara politik adalah hal yang patut diacungi jempol, sangat patut dibanggakan. Karena itu artinya, di umur mereka yang masih muda, mereka masih mempedulikan bangsanya, mereka sudah mempedulikan masyarakatnya. Merekalah remaja, generasi penerus bangsa ini, mereka pun berhak menyumbangkan suaranya di dunia politik. Mengapa harus dibatasi? Bukankah itu adalah suatu kemajuan, karena mereka telah mempersiapkan dirinya untuk ikut berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang sesungguhnya?
Remaja identik dengan ide dan pemikirannya yang masih fresh dan kreatif. Bukankah itu bisa menjadi sebuah kontribusi awal untuk me-reload­ ide-ide tentang politik Indonesia saat ini sehingga menjadi lebih berkembang dan solutif? Selain itu, jiwa kritis para remaja juga sangat dibutuhkan untuk melakukan control dan pengawasan terhadap politik pemerintahan negara kita.
Saya sendiri awalnya juga memegang paradigma yang salah tentang politik. Bahkan saya cenderung menghindar, saya terlalu takut untuk terjun di dalamnya. Tetapi di sisi lain diri saya, saya juga tak jarang melakukan diskusi dengan teman, mengomentari masalah-masalah Negara yang terkait sangat erat dengan dunia politik. Setelah itu, saya sadar bahwa berbicara tentang politik dengan usia kita yang mungkin masih bau kencur di mata orang-orang tua tidaklah salah. Benar-benar tidak ada yang salah. Bahkan jika mulai sekarang kita bercita-cita, atau terjun dan berkeimpung secara langsung di dunia politik benar-benar tak ada salahnya. Malah seharusnya kita berada di barisan terdepan untuk mendukung mereka, yang tentunya berorientasi membawa masyarakat Indonesia menuju masyarakat madani. Masyarakat yang lebih baik.

Rabu, 13 Maret 2013

Surat yang (tak) Tersampaikan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Surat ini, kutujukan untuk siapa saja yang pernah kecewa bahkan terluka karenaku. Khususnya, kepada kedua orang tua yang sangat kucintai.

Aku bingung harus memulai dari mana. Entahlah, aku hanya membiarkan semua pikiranku tumpah dan memaksa jemari ini tuk menekan tuts-tuts keyboard ini. Banyak sekali yang ingin kuceritakan langsung pada kalian. Tanpa perantara, berbicara melalui hati. Tapi ah, kurasa aku terlalu pengecut untuk itu semua. Aku hanya takut, tak siap menerima segala konsekuensi di ujung tanduknya.

Aku memang masih terlihat kekanak-kanakan. Manjaku masih sering keluar, emosi ini juga masih saja labil. Tapi aku juga sudah cukup umur untuk memilih. Terlebih untuk hidupku sendiri. Karena ini hidupku. Aku yang menjalaninya. Tapi tak berarti bahwa aku mengabaikan kalian. Itu tak benar. Aku peduli. Dan itu sebabnya, sampai detik ini aku masih saja terbayang.

Mungkin, pilihanku kali ini tak seperti kebanyakan orang. Aku yakin kalian pasti heran, keget, tak percaya, bahkan sampai pada takaran meremehkan. Bukan, bukan hanya kalian. Siapapun yang mendengar pilihanku kali ini, pasti juga akan merasakan hal yang sama. Itulah mengapa aku terlalu takut untuk membuka.

Tapi percayalah, aku mulai belajar memilih dengan alasan. Aku mulai belajar memilih dengan pendasaran. Dan aku mulai belajar memilih untuk kebermaknaan. Aku bukan anak kemarin sore yang tiba-tiba jatuh hati pada pandangan pertama dan menentukan pilihan saat itu juga. Tapi tahukah kalian bahwa aku telah melalui proses yang sangat panjang hingga akhirnya aku menemukannya, lalu jatuh dan memantapkan hanya padanya?

Sungguh, kuakui aku terlalu pengecut untuk urusan ini. Saat aku sudah menjatuhkan sebuah pilihan, lidahku begitu kelu tuk mengatakannya. Aku hanya takut, jika pilihanku akan menghancurkan ekspektasi yang terlanjur kalian terbangkan terlalu tinggi. Aku hanya tak siap, jika kalian berbalik arah dan justru menolakku karena pilihan itu. Padahal, jika tanpa dukungan dan restu dari kalian, aku bisa apa?

Aku tak berani meminta, karena aku tahu aku sudah terlalu sering meminta. Aku juga tak berani memohon, karena aku sadar sudah tak terhitung berapa permohonanku yang kalian iyakan. Lantas aku harus apa?

Masa depanku ada di pilihan ini. Bukan materi yang kuharapkan walau aku yakin aku pasti membutuhkan. Bukan prestis yang kutuju walau terkadang terbesit sedikit pikiran untuk itu. Tapi bukan itu prioritasku. Bukan itu yang menjadi landasan pemilihanku. Aku tahu, paradigma yang sudah tertanam lama sungguh sulit tuk dihapuskan. Tapi apakah aku harus mengorbankan sebuah kebenaran dan cita-cita yang besar hanya untuk paradigma yang salah? Apa harus kukorbankan perjalananku menetapkan pilihan ini hanya untuk mengikuti jalan cerita yang tak mengantarkanku ke tempat yang kutuju?

Tolong, katakan padaku bagaimana cara untuk meyakinkan kalian akan pilihanku? Tolong, bantu aku lepas dari ketakutan yang membelengguku. Dan tolong, dukung aku ketika tak ada seorangpun yang berjalan bersamaku.

Kamis, 24 Januari 2013

Terkadang Kita Harus Memaksakan Diri

Surabaya, 24 Januari 2013...
H-81 UNAS SMA 2013

Berkaca... Apa yang sudah kupersiapkan untuk menyambutnya?
N.O.T.H.I.N.G!
Ini gila! Entah mengapa atmosfernya sangat berbeda dengan detik-detik terakhir di penghujung SMP 3 tahun yang lalu.Semuanya berubah!

Lantas? Apa mau diam saja?
E.N.G.G.A.K!
Aku sudah niat untuk berubah, berusaha memperbaiki dan meniti kembali. Tapi niat hanya terpatri dalam hati tanpa tidakan yang jelas!

Setelah perjalanan panjang mencari tujuan, akhirnya aku sampai pada titik ini. Belum final memang, tapi kurasa ini sebuah kemajuan yang sangat pesat! Setidaknya ada sebuah gambaran yang memotivasiku! Yap! Motivasi! Mimpi! Itu yang selama ini kuabaikan!

Aku terlambat! Memang, memang aku terlambat start dari mereka. Tapi detik ini, dengan mimpi dan motivasi yang menjadi bahan bakarku, aku tak hanya akan memulai. Tapi juga berlari. Aku harus berlari! Melebihkan usaha dan doa di atas rata-rata.

Semua ini hanya perlu pembiasaan. Dan terkadang, untuk terbiasa kita memang harus dipaksa! Tak ada salahnya untuk keras pada diri sendiri!

S.E.M.A.N.G.A.T

Kamis, 03 Januari 2013

Ingat Luas Sebelum Sempit (!)

Kamis, 03 Januari 2013.

Hari ketiga di bulan pertama dalam tahun ini. Tetapi sudah memasuki hari ke-13 liburan semesteran saya. Itu artinya sudah 13 hari saya vakum dari dunia efektif sekolah dan diberi kenikmatan waktu senggang yang lumayan dahsyatnya.

Hari-hari pertama liburan saya diisi dengan kedatangan saudara dari Batu, sampai saya dan keluarga diculik oleh mereka untuk dibawa jua ke kota wisata terssebut. Tak lama memang, hanya sekitar 2 hari 2 malam mereka di sini dan saya balas dengan kehadiran selama 4 hari 4 malam di sana. Berkumpul bersama keluarga besar, sekedar melihat tv dan membuat obrolan santai, sampai berwisata ke waduk Selorejo saya lakukan selama itu. Sampai akhirnya ketika hari terakhir saya di sana, tepatnya seminggu yang lalu. Saya dan beberapa cuil teman sekelas saya semasa kelas XI menyambangi saudara sepencipta namun berbeda jenis yaitu hewan-hewan cantik lucu nan imut yang dianugerahi tempat sekeren Batu Secret Zoo. Setelah itu saya kembali pulang ke Surabaya ke rumah tercinta dan memulai kehidupan di rumah seperti sebelumnya.

Dua hari selanjutnya, hari Sabtu minggu lalu saya baru keluar karena ada beberapa urusan sekalian menonton    sebuah film Indonesia yang sedang booming. Katanya sih jarang ada film Indonesia sebagus ini, film yang mengangkat tentang romantika bapak presiden ke-3 kita dengan ibu negara. Memang bagus, tetapi tak ada kesan yang begitu mendalam bagi saya. Saya hanya kagum bagaimana sepasang makhluk Tuhan tersebut memperlakukan selainnya dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. *weeets stop*. Mungkin itu bisa dibilang hari terakhir saya keluar dari rumah, karena semenjak itu saya sudah tak pernah keluar rumah lagi sampai detik ini. Total sudah lima hari dan saya rasa baru beberapa menit tadi batin saya sudah mencapai puncak ketahanannya.

Lima hari ini, kegiatan saya di rumah bisa dibilang cukup membosankan. Hanya latihan soal, blogging, mengunjungi twitterland, tidur, melihat acara tv yang mendadak menampilkan film-film yang cukup menghibur, makan, mandi, ibadah ritual, dan penghayatan diri. Tak lebih. Ibu berkali-kali memberikan tawaran berlibur kembali yang tentu saja saya terima dengan antusias. Tapi yaaa rencana tinggal rencana karena sampai sekarang pun tak ada liburan itu.

Siang tadi, selepas shalat Dzuhur saya kembali berhadapan dengan laptop yang sudah difasilitasi dengan layanan internet sehingga saya bisa dengan asyik berselancar di dunia maya, seperti yang saya lakukan ketika bosan. Saya membuka blog ini, berencana membuat satu postingan lagi tapi tak jua saya temukan inspirasi yang pas. Saya mencoba bermain ke twitland dan lagi-lagi hanya bosan yang saya temui di sana. Hingga akhirnya dengan mantap saya membuka soal penyisihan sebuah lomba statistika edisi tahun lalu dan mencoba mengerjakannya. Baru mencapai nomor ke tujuh adik saya datang dan meminta "jatah"nya untuk penggunaan laptop hari ini. Karena saat itu saya tak menemui kenikmatan yang begitu menggelora, yaa dengan senang hati saya berikan padanya. Lalu saya berbaring di sofa ruang tamu dan entah apa yang terjadi saya segera tak sadarkan diri alias tidur siang.

Tidur siang yang cukup lama, saya terbangun hanya beberapa menit sebelum adzan Ashar berkumandang. Ketika bangun, saya mendapati bapak dan ibu ada di dekat saya. Ibu mengabarkan semua rencana liburan beliau yang gagal total, dan saya menanggapinya dengan rengekan. Saya katakan pada beliau bahwa saya sudah sangat jenuh dan bosan. Tak ada kerjaan berarti yang saya lakukan di rumah. Saya kembali merengek dan merengek agar diajak berlibur entah ke mana saja asalkan jangan di rumah. Saya benar-benar bosan, merasa seperti dalam penjara dan tak ada lagi yang bisa saya lakukan.

Tiba-tiba saya teringat akan tweet dari salah seorang sahabat yang intinya sangat menusuk sekali.
"..... Pantesan hidupmu sedih, mengeluh terus sih"
Kalau tidak salah begitu isinya, dan saya segera tersadar bahwa baru saja saya banyak mengeluhkan tentang liburan kali ini. Ga mau dong jadi orang yang hidupnya dirundung kesedihan? Jadi ya saya mulai beristighfar dan mencoba menggali pikiran-pikiran positif agar bersemangat kembali.

Dan ternyata berhasil! :D Saya berhasil menemukan beberapa hal yang sebisa mungkin saya sugestikan untuk mengusir kejenuhan saya. Saya sadar bahwa Allah begitu baik sekali memberi liburan panjang ini dan menahan saya untuk tetap di rumah bersama keluarga. Karena saya juga sadar bahwa sebentar lagi kehidupan akan berjalan seperti seharusnya. Liburan berakhir dan rutinitas awal saya yang begitu padat harus kembali saya jalani. Senin sampai dengan Sabtu yang menyita banyak waktu saya, terlebih jika ada kegiatan-kegiatan tambahan yang mengharuskan saya berangkat setelah Shubuh dan baru menapakkan kaki di rumah ketika langit sudah gelap. Sebuah Quality Time yang sangat berkualitas untuk saya dan keluarga. ^^

Yang kedua, dengan kenikmatan senggang seperti ini justru banyak targetan yang SEHARUSNYA dapat terpenuhi. Ya, SEHARUSNYA! Karena ternyata saya masih saja berkutat dengan kejenuhan yang membuat saya enggan keluar dari zona nyaman ini.

Terakhir, saya sangat berterima kasih kepada Allah yang telah menegur saya melalui ingatan terhadap twit seorang Facrul Nizar (@nizzarr). Semoga pahala senantiasa mengalir atas twit yang bermanfaat seperti itu. Terima kasih juga ya Allah akan nikmatmu selanjutnya yang justru menghadirkan sebuah inspirasi untuk postingan ini. Semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya. ^^


Saya teringat akan sepenggal lagu yang berjudul Demi Masa, entah siapa penyanyinya. Lagu ini menceritakan tentang pemahaman terhadap surat Al-Ashr - Demi Masa.. Lets Enjoy..
Demi masa..
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan yang beramal shaleh
Demi masa..
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran
 Gunakan kesempatan yang masih diberi semoga kita takkan menyesal
 Masa usia kita jangan disiakan karena ia takkan kembali
Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup.. sebelum mati

Allah sedang berbaik hati memberi kita kelapangan saat ini, jadi gunakan kesempatan sebaik-baiknya agar kita takkan menyesal, sebelum segala sesuatunya menjadi sempit dan memojokkan kita. Hantam kejenuhan anda dan keluarlah dari zona nyaman, sekarang juga!

02 Demi Masa.mp3

Rabu, 02 Januari 2013

Kembalikan Kebahagian Anak-Anak

Rabu, 02 Januari 2013..
2013.. Yaa, 2013.. Tahun sudah bertambah lagi, artinya waktu terus berjalan dan peradaban semakin maju. Kemajuan yang tak hanya menciptakan terobosan positif, melainkan juga meninggalkan banyak goresan negatif. Salah satu yang sangat disayangkan adalah perbedaan perilaku "anak-anak" dari jaman ke jaman.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa keadaan anak-anak Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan (hanya untuk yang peduli dan perhatian sih :p) Kalau bahasa kerennya mungkin "mengalami degradasi moral" huehehe wah wah bahaya banget nih mengingat berpuluh-puluh tahun ke depan nasib bangsa ada di tangan mereka.

Sewaktu berseluncur di dunia maya, dengan mengetikkan kata "perbedaan anak jaman dulu dan jaman sekarang" hasilnya cukup banyak lho, akan saya kutip beberapa di postingan kali ini. Let's enjoy! ^^




Dari 2 gambar di atas silahkan klik untuk memperbesar :D Sumbernya saya dapat dari sini. Saya cukp tertawa miris membacanya, kalau katanya bang haji Roma sih, T E R L A L U......


 2 gambar ini juga boleh diklik untuk memperbesar :) Saya ambil dari sini.. Penulis juga menyertakan beberapa perbedaan permainan yang dilakukan. Kalu jaman dulu, mainannya masih kelereng, benteng-bentengan, petak umpet, pokoknya tradisional dan asli laaah. Kalau sekarang? Internet, game online, tv, sudah jadi sahabat sehari-hari tuh :p

Sudah cukup review postingan orang lainnya, sekarang saatnya nge-share apa yang ada di pikiran-pikiran saya nih, boleh kan? ^^


Saya sangat setuju dengan dua cuplikan postingan di atas. Dalam realita perjalanan saya sehari-haripun, fenomena tersebut berungkali saya temui, bahkan melalui lingkungan terdekat saya. Dan saya rasa, saya pun terlibat dalam aksi perubahan ini. Tetapi saya bersyukur karena setidaknya saya masih sempat merasakan kebahagiaan orisinil yang memang menjadi hak bagi usia anak-anak. Bisa dibilang, saya (dan mungkin semuanya yang seumuran) cukup beruntung karena berada dalam masa transisi, tak terlalu mengarah pada golongan "jadul" tapi tak juga terlalu "gaul".,


Saya dan teman-teman masih sempat merasakan kejayaan Joshua, Tasya dan lainnya dengan tembang-tembang khas polosnya anak kecil. Kami juga sempat merasakan perjuangan permainan-permainan tradisional yang benar-benar menghasilkan peluh, luka dan noda.

Kalau anak sekarang? Figur Joshua dan penyanyi cilik lainnya tergantikan oleh boy band junior (yang dulunya saya kira itu boy band yang digawangi pemuda-pemuda tanggung), penyanyi cilik tak kalah banyak siiih, tapi ya gitu... Kok yang dibawakan berat banget? Cintaaaaa terus, memang sudah tahu artinya cinta, dek? Oh iya, sudah gaul se, sudah modern ya? Jadi seumuran TK aja udah paham th cinta-cintaan *jleb*


Ga hanya itu bos! Anak jaman sekarang nih, ga mau repot lho. Jadi kalau jaman kita lagi seru lari kejar-kejaran, bermain di lapangan, hujan-hujan sampai gelundungan guling-guling di tanah, mereka asyik aja di depan monitor seharian 25 jam! Nah lho padahal satu hari hanya 24 jam tapi ini bisa keimbuhan jadi 25 jam. Saking hebatnya tuh ;)
Saya punya beberapa contoh riil yang sangat dekat. Adik saya sendiri nih, sehari-harinya hanya menghabiskan waktu untuk bermain, orang tua sampai hampir nyerah tuh ngadepinnya. Bayangin ya, bangun tidur bukannya langsung ke kamar mandi ngapain gitu, eeh ini malah menghidupkan laptop duduk manis daaan bermain PB! PB? Apa itu? Yang saya tahu sih PB itu inisial guru fisika saya hehe :p Bukan ding, PB itu Point Blank salah satu game online yang katanya sangat membuat orang kecanduan. Selain PB, permainan favoritnya yaitu Baseball. Hanya dengan menekan tombol spasi, ia sudah bisa memukul bola dan menang! Heran, apa asyiknya sih? Enakan juga pegang tongkat baseball beneran, mukul, melihat seberapa jauh pukulan kita daaaaaan lari dan goooool! *Eh, itu sepakbola -,-.

Contoh kedua datang dari adik sepupu dan ponakan-ponakan yang masih kuecil-kecil.. Antara usia TK-SD kelas 2 laah~ Saya sedikit kaget waktu diajak bermain Play Station. Apa yang terjadi? Saya diajari bermain GTA (Grand Thef Auto) yang permainannya gak banget deh kalau untuk ukuran mereka, banyak adegan kekerasannya.. Lalu..... Smack Down, dan lagi-lagi saya diajari. -___- Tahu sendiri kan smack down itu permainan apa? Sudah nyiksa orang, banting-bantingan dan banyak perempuan-perempuan sexy nyaaa ~ Masih banyak lagi deh pokoknya permainan yang gak banget.

Contoh ketiga yaituuuuuu, lagi-lagi adik sepupu saya hehe. Walaupun usianya baru 6 tahun tapi pegangannya Ipad lho, saya saja yang sudah 17 tahun pegang Ipad baru punya dia hehe -,- Bisa mengoperasikan android, BB dan PC, keren gak tuh, saya saa biasanya kalau pinjem android dan BB teman masih agak linglung. Ini saya yang terlalu gaptek apa adik saya yang terlalu modern sih? -,-

Itu baru contoh kecil di sekitar saya, saya yakin di luar sana teman-teman pun sering sekali menemukan hal serupa. Ga kaget sih, karenapengaruh-pengaruh dari luar masuk terlalu jauh. Apalagi lewat peranan media yang tak bisa dipungkiri selalu berada di sela-sela waktu kita. Tayangan televisi, pengaruh teman, majalah, internet, tokoh idola, bahkan sampai buku tugas pun menggerakkan mereka.

Yang paling saya sayangkan adalah kurangnya figuritas yang mereka damba-dambakan, di sini lebih saya tekankan pada artis-artis cilik Indonesia. Orang-orang dewasa dan mengaku berpendidikan yang notabenenya menjadi otak pelibatan mereka dalam dunia entertaiment harusnya berpikir ulang, karena mereka sungguh mengorbankan moral dan pendidikan jutaan anak Indonesia. Bukan seenaknya mengemas acara yang terlalu alay hanya demi uang uang dan uang.

Mari kita cermati dan kupas sejenak.
1. Sinetron picisan yang banyak melibatkan anak
  ~ Saya tak habis pikir ketika secara tak sengaja saya menyaksikan sebuh adegan licik, jahat dan tak berperasaan yang dilakukan 2 anak perempuan kepada anak perempuan lain yang digambarkan sangat polos dan baik hati. Ya saya tahu pak, buk.. Memang peran antagonis dibutuhkan, tapi ya coba deh dikemas dengan cara yang lebih wajar dan mendidik untuk umur-umur mereka. Secara tak langsung sampeyan-sampeyan sudah melatih dan membiasakan kepribadian mereka dengan kekerasan, pikiran licik, dan cemooh-cemooh lho.
 ~ Ada juga adegan tentang anak seumuran (lagi-lagi) TK, sudah (maaf) memeluk, berpegangan tangan dan berciuman dengan lawan jenisnya. Yaaa jangan heran kalau di berita marak dengan kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.
2. Hilangnya lagu-lagu anak
  ~ Yang ini juga cukup berpengaruh lho. Dulu jaman saya, masih ada lagu-lagu yang mencerminkan kepolosan, keluguan dan kelucuan kita sebagai anak-anak. Bayak banget nilai positifnya, yang diajk untuk nabung, diceritain kalau nanti bisa ke pulau dewata asalkan nilainya bagus, diingatkan kalau bakalan ada  tikus dan kecoa cuma gara-gara jarang bersih-bersih, dan lainnya. Eeeh lagu sekarang sudah main cinta aja terus nanya facebook dan twitter. -___- Mbok ya disadari, kalau lagu-lagu begitu yang disajikan, terus didengarkan, dihapalkan, diikuti, didengung-dengungkan yaaaa lama-lama masuk ke alam bawah sadar dan memproduk mereka.

2 Hal tersebut masih secuil dari berbagai permasalahan calon pemimpin bangsa ini lho. Jadi jangan stag dan mundur untuk berbenah. Ini tugas kita semua, bukan hanya Pak Seto sebagai guru kesenian, komputer, sekaligus merangkap sebagai TU di sekolah saya. Ehm, bercanda ._.v maksud saya Pak Seto yang ketua Komnas perlindungan anak itu lhooo. Ya tugas kita semua, mulai dari bapak-bapak ibu-ibu yang sudah berumur, kakak-kakak yang sudah dewasa, teman-teman yang masih labil, dan adik-adik yang menjadi korban dan calon korban *eeeh*. Mereka adalah generasi penerus, jalan cerita mereka masih panjang, biarlah mereka mengukirnya dengan kebaikan yang harus kita tanamkan sejak mereka dini, di usia-usia mereka saat ini. Karena masa kecil adalah saat paling tokcer untk memasukkan data jauuuuh di bawah sadar mereka. Kembalikan kebahagiaan dan memori indah masa kecil mereka yang sudah terenggut arus globalisasi.


Salam semangat, salam perubahan.,
Wassalamualaikum ^^

Sabtu, 01 Desember 2012

Suara itu Mencarimu

Apa kau mendengar suara itu?
Rintihan yang memilukan
Apa kau mendengar suara itu?
Desah kekecewaan yang memekakkan
Sekali lagi, apa kau mendengar suara itu?
Tangisan amarah yang mencekam

Apa kau tak dengar?
Itulah rintihan mereka yang gugur bersimbah darah!
Itulah desah kecewa mereka yang berani mati demi negaranya!
Itulah tangisan mereka yang meruncingkan bambu di hadapan bedhil-bedhil raksasa!

Sadarkah hai putra bangsa?
Darah dan nyawa mereka kini ditukar dengan "curi" yang nyata,
Derita dan perjuangan mereka hanya diberi tanda jasa,
Ikrar MERDEKA atau MATI yang merkea dengungkan ternyata sama harganya dengan tanggal-tanggal merah

Sadarkah hai putra bangsa?
Mereka tak butuh itu!
Di mana kalian hai putra bangsa?
Di mana lenganmu yang siap membela ibu pertiwi?
Suara-suara itu mencarimu

Rabu, 10 Oktober 2012

Sebuah Kisah di Balik Detik-Detik Terakhir Pendaftaran

Assalamualaikum Wr. Wb
Sebenarnya malam ini pikiran saya sedang kacau, tetapi justru dalam kondisi seperti inilah mood menulis saya bertambah gencar. Dan kali ini saya ingin berbagi sebuah cerita yang -menurut saya- cukup mengharukan. Cerita ini baru saja saya dapat tadi pagi ketika uts baru saja berakhir...
***
SKI (Sie Kerohanian Islam) sekolah saya, SMAN 2 Surabaya sebentar lagi akan menyelenggarakan SMC (Smada Muslim Competition) pada Sabtu pekan ini. Berdasarkan hasil Technical Meeting Sabtu pekan lalu, kami masih membuka pendaftaran untuk 3 kategori lomba (Karya tulis, kaligrafi dan tahfidz) sampai dengan kemarin (9/10/12).

Karina (bukan nama samaran; bag. kesekretariatan), mengaku mendapat telepon dari nomor tak dikenal ketika suasana masih berbau Maghrib. Pada awalnya ia enggan mengangkat, namun nomor tersebut terus saja menghubunginya tanpa lelah. Akhirnya dengan sedikit terpaksa diangkatnya telepon tersebut, terdengar suara seorang ibu-ibu di ujung sana.

Ibu itu bercerita tentang nasib anaknya yang sudah mengirim karya tulis ke email SMC, namun belum melakukan pendaftaran. Yang mengharukan adalah, beliau mengatakan bahwa beliau datang dari Bangil dan detik itu, ketika langit akan mulai bercerita tentang gelapnya malam, detik itu beliau berada di depan SMADA demi mendaftarkan anaknya! Sangar gyaaaak? :D
"Mbak, anak saya sudah mengirim karyanya melalui email, tetapi belum mendaftar. Sebenarnya tadi mau mengirim uang pendaftaran melalui bank, tapi banknya tutup. Masih boleh kan mbak daftar mbak, masih bisa ya mbak ya? Anak saya sudah mengirim. Tolong ya mbak.. Sekarang saya di SMADA" mungkin kurang lebih begitu beliau meminta  di telepon, ini hanya imajinasi saya sih hehe ._.

"Mengharukan kaaan, aku langsung sms Abdul dan Abdul langsung ke SMADA! Terus katanya Abdul itu suami-istri boncengan, subhanallah" Karina mengaku sangat terharu, begitupun Abdullah ketua SKI SMADA.

Sepersekian detik setelah saya mendengarnya, saya tidak begitu tertarik. Hanya tanggapan biasa saja, iyo yo mengharukan.. Tapi begitu sampai di rumah dan ketika saya hayati lagi, "wuh.. sangar yo." itu yang ada dalam benak saya. Tak hanya tentang bagaimana usaha mereka untuk mendaftar even sekolah saya, tetapi jauh dari itu.

Pengorbanan orang tua untuk anaknya. Mereka rela berboncengan dari Bangil-Surabaya hanya untuk mengantarkan formulir dan uang senilai Rp 20.000,- agar sang anak tak kecewa. Agar perjuangan sang anak tak hanya berhenti di inbox SMC. Agar anak mereka berhasil mendapatkan apa yang dia mau, yang dia inginkan, yang dia butuhkan!
***

Wassalamualaikum Wtt. Wb 

Sabtu, 18 Agustus 2012

Periodisasi Sejarah Indonesia (3, Habis)

Assalamualaikum Wr. Wb
Dan inilah postingan lanjutan saya dari Periodisasi Sejarah Indonesia (2)


1.                  Masa Reformasi (1998-Sekarang)
Awal Mula. Pada tanggal 22 Mei 1998 Habibie mengumumkan susunan "Kabinet Reformasi". Letjen Prabowo Subiyanto dicopot dari jabatan Panglima Kostrad. Di Gedung DPR/MPR, bentrokan hampir terjadi antara pendukung Habibie yang memakai simbol-simbol dan Atribut keagamaan dengan mahasiswa yang masih bertahan di Gedung DPR/MPR. Mahasiswa menganggap bahwa Habibie masih tetap bagian dari Rezim Orde Baru. Tentara mengevakuasi mahasiswa dari Gedung DPR/MPR ke Universitas Atma Jaya
Habibie. Masa pemerintahan Habibie ditandai dengan dimulainya kerjasama dengan Dana Moneter Internasional untuk membantu dalam proses pemulihan ekonomi. Selain itu, Habibie juga melonggarkan pengawasan terhadap media massa dan kebebasan berekspresi. Kejadian penting dalam masa pemerintahan Habibie adalah keputusannya untuk mengizinkan Timor Timur untuk mengadakan referendum yang berakhir dengan berpisahnya wilayah tersebut dari Indonesia pada Oktober 1999.
Makna: Mendapat kontroversi dari berbagai pihak, menambah daftar masa kelam dalam sejarah Indonesia atas pelepasaan wilayah Timor Timur.
 GusDur (K.H. Abdurrahman Wahid). Pada pemilu yang diselenggarakan pada 1999 (lihat: Pemilu 1999), partai PDI-P pimpinan Megawati Soekarnoputri berhasil meraih suara terbanyak (sekitar 35%). Tetapi karena jabatan presiden masih dipilih oleh MPR saat itu, Megawati tidak secara langsung menjadi presiden. Abdurrahman Wahid, pemimpin PKB, partai dengan suara terbanyak kedua saat itu, terpilih kemudian sebagai presiden Indonesia ke-4. Megawati sendiri dipilih Gus Dur sebagai wakil presiden.
Masa pemerintahan Abdurrahman Wahid diwarnai dengan gerakan-gerakan separatisme yang makin berkembang di Aceh, Maluku dan Papua. Selain itu, banyak kebijakan Abdurrahman Wahid yang ditentang oleh MPR/DPR. Pada 29 Januari 2001, ribuan demonstran berkumpul di Gedung MPR dan meminta Gus Dur untuk mengundurkan diri dengan tuduhan korupsi. Di bawah tekanan yang besar, Abdurrahman Wahid lalu mengumumkan pemindahan kekuasaan kepada wakil presiden Megawati Soekarnoputri. Melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001, Megawati secara resmi diumumkan menjadi Presiden Indonesia ke-5.
Makna: Gus Dur banyak mendapat dukungan karena sikap toleransinya yang begitu tinggi terhadap keberagaman umat beragama di Indonesia, tetapi juga banyak mendapat kecaman atas gerakan-gerakan separatis dan tuduhan korupsi.
Megawati. Megawati dilantik di tengah harapan akan membawa perubahan kepada Indonesia karena merupakan putri presiden pertama Indonesia, Soekarno. Meski ekonomi Indonesia mengalami banyak perbaikan, seperti nilai mata tukar rupiah yang lebih stabil, namun Indonesia pada masa pemerintahannya tetap tidak menunjukkan perubahan yang berarti dalam bidang-bidang lain. Popularitas Megawati yang awalnya tinggi di mata masyarakat Indonesia, menurun seiring dengan waktu. Hal ini ditambah dengan sikapnya yang jarang berkomunikasi dengan masyarakat sehingga mungkin membuatnya dianggap sebagai pemimpin yang 'dingin'.
Megawati menyatakan pemerintahannya berhasil dalam memulihkan ekonomi Indonesia, dan pada 2004, maju ke Pemilu 2004 dengan harapan untuk mempertahankan kekuasaannya sebagai presiden. Pada tahun 2004, Indonesia menyelenggarakan pemilu presiden secara langsung pertamanya. Ujian berat dihadapi Megawati untuk membuktikan bahwa dirinya masih bisa diterima mayoritas penduduk Indonesia. Dalam kampanye, seorang calon dari partai baru bernama Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, muncul sebagai saingan yang hebat baginya.
Makna: Pengharaapan rakyat Indonesia akan kembalinya sosok “Soekarno” dalam diri Megawati menuai kekecewaan. Megawati lebih banyak diam.
Susilo Bambang Yudhoyono. Partai Demokrat yang sebelumnya kurang dikenal, menarik perhatian masyarakat dengan pimpinannya, Yudhoyono, yang karismatik dan menjanjikan perubahan kepada Indonesia. Karisma Yudhoyono berhasil menarik hati mayoritas pemilih dan Demokrat memenangkan pemilu legislatif pada awal 2004, yang diikuti kemenangan Yudhoyono pada pemilihan presiden. Dan kembali memenangkan pemilu pada tahun 2009. Pertumbuhan ekonomi sempat meningkat diikuti dengan hutang negara dan kasus korupsi yang juga meningkat.
Makna: Citra SBY yang begitu kuat di mata rakyat Indonesia kala itu membuatnya memenangkan pemilu dua periode berturut-turut.

Sekian sedikit info dari saya, jika ada yang kurang dan salah bisa langsung dikritik dan saran melalui komentar di bawah ini. Terima kasih ^^

Wassalamualaikum Wr. Wb

Periodisasi Sejarah Indonesia (2)

Assalamualaikum Wr. Wb
Inilah lanjutan dari posting sebelumnya,  Periodisasi Sejarah Indonesia (1)
Check it out :))))
1.                  Masa Orde Lama (1945-1967)
Pada era Orde Lama, masa pemerintahan presiden Soekarno antara tahun 1959-1967, pembangunan dicanangkan oleh MPR Sementara (MPRS) yang menetapkan sedikitnya tiga ketetapan yang menjadi dasar perencanaan nasional:
§ TAP MPRS No.I/MPRS/1960 tentang Manifesto Politik republik Indonesia sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara
§ TAP MPRS No.II/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana 1961-1969,
§ Ketetapan MPRS No.IV/MPRS/1963 tentang Pedoman-Pedoman Pelaksanaan Garis-Garis Besar Haluan Negara dan Haluan Pembangunan.
Makna: Sebagai tatanan kepemerintahan yang diharapkan dapat membangun Indonesia menjadi negara seutuhnya setelah proklamasi dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Masa demokrasi liberal (1950-1959). Demokrasi yang dipakai adalah demokrasi parlementer atau demokrasi liberal. Demokrasi pada masa itu telah dinilai gagal dalam menjamin stabilitas politik. Ketegangan politik demokrasi liberal atau parlementer disebabkan oleh dominannya partai politik yang sangat mementingkan kelompok atau alirannya sendiri dari pada mengutamakan kepentingan bangsa, landasan sosial ekonomi rakyat yang masih rendah, tidak mampunya para anggota konstituante bersidang dalam mennetukan dasar negara.
Presiden sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang berisi 3 keputusan yaitu:
Menetapkan pembubaran konstituante
Menetapkan UUD 1945 berlaku kembali sebagai konstitusi negara dan tidak berlakunya UUDS 1950
Pembentukan MPRS dan DPRS
Makna: Dianggap sebagai sistem pemerintahan yang gagal sehingga menimbulkan beberapa pemberontakan (PPRI dan PERMESTA).
Masa demokrasi terpimpin (1959-1966). Menurut Ketepan MPRS no. XVIII/MPRS /1965 demokrasi trepimpin adalah kerakyatan yang dipimpn oleh hikmat kebijaksamaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Demokrasi terpimpin merupakan kebalikan dari demokrasi liberal dalam kenyataanya demokrasi yang dijalankan Presiden Soekarno menyimpang dari prinsip-prinsip negara demokrasi.
Penyimpanyan tersebut antara lain:
1.      Presiden membubarkan DPR hasil pelimu pertama (1960)
2.      Pengangkatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup oleh MPRS
3.      Pengangkatan Ketua MPRS dan DPRGR sebagai menteri
4.      Membuat poros Jakarta-Peking-Pyong
Makna: Dianggap sebagai pemerintahan yang tidak dapat mengayomi masyarakatnya karena ekonomi masih saja memburuk, rencana pembangunan tidak berjalan dan pemerintah hanya sibuk dengan kehidupan politik.
G 30 S / PKI (1965). Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya (Letjen A. Yani, Mayjen Raden Suproto, Mayjen M. T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D. I. Panjaitan, Brigjen S. Siswomiharjo, Lettu Pierre Tandean, Ade Irma Suryani Nasution) dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
Makna: Menjadi catatan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Menorehkan trauma yang dalam bagi rakyat.

2.                 Masa Orde Baru (1967-1998)
Lahirnya Orde Baru. Setelah peristiwa G 30 S PKI yang berhasil ditumpas dibawah kepemimpinan Soeharto, Ir. Soekarno memberi kekuasaan tak terbatas kepada Soeharto melalui surat Supersemar. Setelah dikelurkan Supersemar maka mulailah dilakukan penataan pada kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Penataan dilakukan di dalam lingkungan lembaga tertinggi negara dan pemerintahan. Dikeluarkannya Supersemar berdampak semakin besarnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah karena Suharto berhasil memulihkan keamanan dan membubarkan PKI. Munculnya konflik dualisme kepemimpinan nasional di Indonesia. Hal ini disebabkan karena saat itu Soekarno masih berkuasa sebagai presiden sementara Soeharto menjadi pelaksana pemerintahan. Konflik Dualisme inilah yang membawa Suharto mencapai puncak kekuasaannya karena akhirnya Sukarno mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Suharto.  Pada tanggal 23 Februari 1967, MPRS menyelenggarakan sidang istimewa untuk mengukuhkan pengunduran diri Presiden Sukarno dan mengangkat Suharto sebagai pejabat Presiden RI. Dengan Tap MPRS No. XXXIII/1967 MPRS mencabut kekuasaan pemerintahan negara dan menarik kembali mandat MPRS dari Presiden Sukarno . 12 Maret 1967 Jendral Suharto dilantik sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Orde Lama dan dimulainya kekuasaan Orde Baru. Pada Sidang Umum bulan Maret 1968 MPRS mengangkat Jendral Suharto sebagai Presiden Republik Indonesia.
Makna: Sebagai harapan rakyat untuk kembali menata kehidupan Indonesia yang sesuai dengan pancasila dan UUD 1945.
Pemilu. Selama masa Orde Baru telah berhasil melaksanakan pemilihan umum sebanyak enam kali yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali, yaitu: tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.
Makna: Realisasi dari sistem kepemimpinan demokrasi, namun semuanya sealu dimenangkan oleh Golongan Karya. Pada pemilu terakhir diwarnai aksi golput Megawati Soekarno Putri yang tersingkir sebgai ketua umum PDI yang tidak diakui rezim pemerintah saat itu. Banyak menimbulkan kontroversi dari masyarakat.
Dwifungsi Abri. Guna menciptakan stabilitas politik maka pemerintah menempatkan peran ganda bagi ABRI yaitu sebagai peran hankam dan sosial. Sehingga peran ABRI dikenal dengan Dwifungsi ABRI. Peran ini dilandasi dengan adanya pemikiran bahwa TNI adalah tentara pejuang dan pejuang tentara. Kedudukan TNI dan Polri dalam pemerintahan adalah sama di lembaga MPR/DPR dan DPRD mereka mendapat jatah kursi dengan pengangkatan. Pertimbangan pengangkatannya didasarkan pada fungsi stabilisator dan dinamisator.
Makna: Penyelenggaraan negara didominasi oleh ABRI yang menyebabkan Indonesia mencapai stabilitas sosial, politik dan ekonomi, serta maraknya kasus korupsi.
P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Pada tanggal 12 April 1976, Presiden Suharto mengemukakan gagasan mengenai pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila yaitu gagasan Ekaprasetia Pancakarsa. Gagasan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai Ketetapan MPR dalam sidang umum tahun 1978 mengenai “Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila”.
Guna mendukung program Orde baru yaitu Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen maka sejak tahun 1978 diselenggarakan penataran P4 secara menyeluruh pada semua lapisan masyarakat. Tujuan dari penataran P4 adalah membentuk pemahaman yang sama mengenai demokrasi Pancasila sehingga dengan pemahaman yang sama diharapkan persatuan dan kesatuan nasional akan terbentuk dan terpelihara. Melalui penegasan tersebut maka opini rakyat akan mengarah pada dukungan yang kuat terhadap pemerintah Orde Baru. 
Makna: Pancasila telah dimanfaatkan oleh pemerintahan Orde Baru dengan adanya himbauan pemerintah pada tahun 1985 kepada semua organisasi untuk menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal. Penataran P4 merupakan suatu bentuk indoktrinasi ideologi sehingga Pancasila menjadi bagian dari sistem kepribadian, sistem budaya, dan sistem sosial masyarakat Indonesia.
Pelita (Pembangunan Lima Tahun).
Pelita I (1 April 1969-31 Maret 1974): Pangan, Sandang, Perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani.
Pelita II (1 April 1974-31 Maret 1979): tersedianya pangan, sandang,perumahan, sarana dan prasarana, mensejahterakan rakyat dan memperluas kesempatan kerja.
Pelita III (1 April 1979-31 Maret 1984): Trilogi Pembangunan dengan penekanan lebih menonjol pada segi pemerataan.
Pelita IV (1 April 1984-31 Maret 1989): sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri.
Pelita V (1 April 1989-31 Maret 1994): sektor pertaian dan industri.
Pelita VI (1 April 1994-31 Maret 1999): sektor ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya.
Makna: Dapat menghasilkan kesejahteraan rakyat yang makin meningkat dan merata.
Runtuhnya Orde Baru. Penyebab utama runtuhnya kekuasaan Orde Baru adalah adanya krisis moneter tahun 1997. Sejak tahun 1997 kondisi ekonomi Indonesia terus memburuk seiring dengan krisis keuangan yang melanda Asia. Keadaan terus memburuk. KKN semakin merajalela, sementara kemiskinan rakyat terus meningkat. Terjadinya ketimpangan sosial yang sangat mencolok menyebabkan munculnya kerusuhan sosial. Muncul demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa. Tuntutan utama kaum demonstran adalah perbaikan ekonomi dan reformasi total. Demonstrasi besar-besaran dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1998. Pada saat itu terjadi peristiwa Trisakti, yaitu meninggalnya empat mahasiswa Universitas Trisakti akibat bentrok dengan aparat keamanan. Empat mahasiswa tersebut adalah Elang Mulya Lesmana, Hery Hariyanto, Hendriawan, dan Hafidhin Royan. Keempat mahasiswa yang gugur tersebut kemudian diberi gelar sebagai “Pahlawan Reformasi”. Menanggapi aksi reformasi tersebut, Presiden Soeharto berjanji akan mereshuffle Kabinet Pembangunan VII menjadi Kabinet Reformasi. Selain itu juga akan membentuk Komite Reformasi yang bertugas menyelesaikan UU Pemilu, UU Kepartaian, UU Susduk MPR, DPR, dan DPRD, UU Antimonopoli, dan UU Antikorupsi. Dalam perkembangannya, Komite Reformasi belum bisa terbentuk karena 14 menteri menolak untuk diikutsertakan dalam Kabinet Reformasi. Adanya penolakan tersebut menyebabkan Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.
Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden RI dan menyerahkan jabatannya kepada wakil presiden B.J. Habibie. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Orde Baru dan dimulainya Orde Reformasi.
Makna: Mengawali catatan pergerakan reformasi bangsa Indonesia yang tidak setuju oleh dampak yang terjadi akibat sistem-sistem yang diterapkan Soeharto. Banyak terjadi pemberontakan yang mengakibatkan beberapa mahasiswa gugur.

^^
Waalaikumsalam Wr. Wb
Cute Purple Rain drop