Social Icons

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

Dihujani Kenangan

Eeeeettts, udah ga pernah muncul, sekalinya muncul judulnya alay-alay galau melow gimanaaa gituuuuu -,-
Ampuuunn qaqaaa, emang lagi galau sih :( dikit tapi dikiit kook seriusan deh dikit banget..

Yaaah, setelah berbulan-bulan lamanya blog ini dianggurkan akhirnya aku datang lagi :) Mumpung ada waktu nih, jadi boleh lah yaaa coret-coret sedikit di sini hehe

Kemarin timeline twitter, line, facebook dipenuhi dengan ucapan syukur dan euforia pemenang SNMPTN tahun ini. Ya, adik-adik kelas 12 SMA yg berhasil diterima di perguruan tinggi negeri pilihannya tanpa harus mengikuti rentetan tes lagi. Dan itulah sumber kegalauankuchiks :'(

Malam kemarin mengingatkanku pada memori setahun silam, saat aku berada di posisi yang sama dengan mereka sekarang ini. Aku gagal di sana saudara-saudara, dan kemudian diikuti kegagalan di jalur satunya lagi, yang merubah 180 derajat haluanku hingga akhirnya sekarang di sini, menjalani hari-hari baru di luar rencana awal.

Menyesal? Ya
Marah? Ya
Sedih? Ya
Bahkan terkadang masih sering mengutuk diri sendiri dan berandai-andai untuk kembali ke masa lalu.
Nyesek, nyesek banget. Apalagi tiap membuka berkas-berkas yang menceritakan target dan rencanaku yang dulu, yang sudah tersusun rapi, dengan mimpi yang tinggi nan membara. Ditambah lagi ketika mendengar dan melihat cerita dari mereka yang berlari di sana, rasanya ingin sekali berteriak dan kembali bersama mereka.

Yaa, tapi mau bagaimana lagi? Karena itu salahku sendiri, dan untuk ke sinipun adalah keputusanku sendiri. Karenaku yang terlalu pengecut memperjuangkan itu semua.

Berbulan-bulan di sini memang masih belum bisa membuatku move on sepenuhnya, tapi yang kutahu, ini jalan yang telah kupilih dan harus kupertanggungjawabkan nantinya. Hanya bagaimana jalan ini tetap mengantarkanku pada karya yang tak kalah dari mereka. Karena hanya jalanku yang berubah, bukan cita-citaku

Minggu, 18 Agustus 2013

My Favourite Song "The Beginning"

Awalnya bosen banget sama lagu ini karena setiap hari, jam menit detik adik pasti memutar lagu ini dengan volume yang cukup besar! Ditambah lagi dengan banyak lirik yang ga dimengerti karena berbahasa Inggris dan Jepang.

Tapi memang benar, jika terlalu membenci sesuatu suatu naat nanti kamu pasti akan menyukainya. Dan itulah yang terjadi padaku. Langsung deh seketika ngefans banget sama lagu ini. Lumayan nge-rock, liriknya dalem jugaaa meskipun sampe sekarang belum sepenuhnya hafal sih hehe..

Mau tau liriknyaaa? Yuk check this out

Just give me a reason
To keep my heart beating
Don't worry it's safe, right here in my arms
As the world falls apart around as
All we can do is hold on, hold on

Take my hand
And bring me back

I risk everything if it's for you
I whisper into the night
Telling me it's not my time and don't give up
I've never stood up before this time
Demo yuzurenai mono itta kono te wo hakasakai

SO STAND UP!! STAND UP!! (just gotta keep on running)
WAKE UP!! WAKE UP!! (just tell me how I can)
NEVER GIVE UP!!
KANASHIMI TO SETSUNASA

Just tell me why baby
They might call me crazy
For saying I'll fight until there is no more
Fureri wo fukuda senkougakkou wa kakkakiteki shoudou
Blinde, I can't see the end
So where do I begin?

Say another word, I can't hear you
The silence between us
Nanimo nai you ni utsuteru dake
I take this chance that I make you mine
Tada kakusenai mono kattate yori misekakete

SO STAND UP!! STAND UP!! (just gotta keep on running)
WAKE UP!! WAKE UP!! (just tell me how I can)
NEVER GIVE UP!!
KANASHIMI TO SETSUNASA

Just give me a reason
To keep my heart beating
Don't worry it's safe, right here in my arms
Kudaketenaide saite jita kono omoi wa
So blinded I can't see the end

Look how far we made it
The pain I can't escape it
Kono mamajya mada owarase koto wa dekinai deshou nandou
Kutabarisou demo kuchi hateyou tomo wariwanaisa
So where do I begin?

Nigirishimeta ushinawanu youni to 
Te wo hirogereba koboreochisou de 
Ushinau mono nado nakatta hibino dasei wo sutete…kimi wo 

Just tell me why baby
They might call me crazy
For saying I'll fight until there is no more
Fureri wo fukuda senkougakkou wa kakkakiteki shoudou
Blinded, I can't see the end
So where do I begin?

Look how far we made it
The pain I can't escape it
Kono mamajya mada owarase koto wa dekinai deshou nandou
Kutabarisou demo kuchi hateyou tomo wariwanaisa
We finally begin


Pilihan dan Memilih

Sepertinya sudah lama banget ga nulis di sini, hehe sebenernya pingin se pingin banget malah banyak yang ingin disampaikan, tapi entahlah terasa begitu sulit menguraikannya. Memang yang namanya keiasaan ya kebiasaan, semakin lama ga dilakuin yaaaa isa jadi malah lupa gimana caranya ngelakuin hal itu lg :/

Setelah menjalani masa transisi (Pelajar-Mahasiwa) yang cukup lama kurang lebih 4 bulan, kini tibalah saatnya untuk kembali mengarungi kehidupan keras yang baru saja akan di mulai hahaha *evil laugh. Masa transisi ini tentunya mengukir banyak sekali hal tak terlupakan, momen-momen kegalauan, kekecewaan, kejenuhan, kemarahan, penentuan, perjuangan dan momen-momen lainnya.

Kecewa, karena beberapa target dan rencana yg sudah tersusun gagal tercapai..
Galau, karena entah bagaimana menambal kegagalan itu...
Jenuh, karena harus terjebak dan tak segera bertemu dengan jalan keluar yang menenangkan...
Marah, karena semua bertolak dan memalingkan muka atas apa yang terjadi..

Hingga akhirnya harus memilih, dilematis yang sangatsangatsangatsangat *kebanyakan sangat nih* menyiksa. Tetap pada pilihan atau melunakkan diri dan mencari jalan lain?

Dan ternyata, jalan yang terbuka adalah jalan lain, bukan jalan yang ingin kulalui, tapi harus kulalui. Haruskah? Benarkah? Terkadang berbagai pertanyaan yang melemahkan selalu datang, seakan mengejekku yang tak mau memperjuangkan apa yang kuinginkan.

Mungkin "kecupuanku" terlihat sangat mencolok di sini. Tapi inilah aku, dengan pilihanku. Sesekali pernah marah atas faktor-faktor yang mendorongku untuk memilih, tapi seseorang menyadarkan bahwa apa yang kujalani sekarang adalah pilihanku. Freewillku. Kehendakku. Dan jika aku harus marah satu-satunya yang berhak mendapat amarah itu adalah diriku sendiri.

Tapi satu hal yang masih dan insyaallah akan selalu kupegang. Aku masih dengan cita-citaku, tapi mungkin dengan alat yg berbeda.

Kamis, 28 Maret 2013

Kata Remaja tentang Politik


“Politik”, satu kata yang sudah menjadi tren masa kini, terutama di Indonesia yang kita cintai ini. Hampir seluruh lapisan masyarakat tahu, bahkan tak jarang politik menjadi buah bibir di mana-mana. tetapi, pada kenyataannya hanya segelintir orang yang benar-benar paham dan mengenal hakikat “politik” yang sesungguhnya.
Politik dalam arti luasnya adalah pengaturan urusan masyarakat. Tidak ada yang salah bukan dengan politik? Yang salah di sini adalah cara pendahulu-pendahulu kita dalam melaksanakannya.
Di Indonesia, identitas politik sudah tercemar. Pihak penguasa secara tidak langsung menanamkan bahwa politik itu korupsi, politik itu menyuap, politik itu kotor, politik itu rekayasa, politik itu kejam, dan itu-itu lain yang tentunya mengandung unsur keburukan. Pada akhirnya, paradigma yang seperti itu mengantarkan kita menjadi masyarakat yang acuh tak acuh terhadap dunia perpolitikan. Terlebih lagi untuk remaja, pandangan mereka yang salah terhadap politik, menurunkan kesadaran untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.
Padahal, tanpa kita sadari, kehidupan kita secara tidak langsung selalu dipenuhi dengan politik, bahkan kita sendirilah yang melakukan aksi politik tersebut. Sesederhana itu.
Jadi sangat mustahil jika ada pernyataan yang melarang generasi muda untuk berpartisipasi di dunia politik, bahkan dalam takaran partisipasi yang sangat minim. Yaitu peduli terhadap realita dan menjadikannya bahan diskusi sehari-hari.
Politik dianggap momok dan kutukan yang seharusnya tak boleh disentuh oleh pemuda-pemudi kita. Generasi-generasi tua menganggap kita –para remaja- masih anak-anak dan tidak tahu apa-apa tentang politik, apalagi masalah-masalah politik di Indonesia yang terbilang cukup kompleks.
Menurut saya, justru ketika generasi muda berbicara politik adalah hal yang patut diacungi jempol, sangat patut dibanggakan. Karena itu artinya, di umur mereka yang masih muda, mereka masih mempedulikan bangsanya, mereka sudah mempedulikan masyarakatnya. Merekalah remaja, generasi penerus bangsa ini, mereka pun berhak menyumbangkan suaranya di dunia politik. Mengapa harus dibatasi? Bukankah itu adalah suatu kemajuan, karena mereka telah mempersiapkan dirinya untuk ikut berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang sesungguhnya?
Remaja identik dengan ide dan pemikirannya yang masih fresh dan kreatif. Bukankah itu bisa menjadi sebuah kontribusi awal untuk me-reload­ ide-ide tentang politik Indonesia saat ini sehingga menjadi lebih berkembang dan solutif? Selain itu, jiwa kritis para remaja juga sangat dibutuhkan untuk melakukan control dan pengawasan terhadap politik pemerintahan negara kita.
Saya sendiri awalnya juga memegang paradigma yang salah tentang politik. Bahkan saya cenderung menghindar, saya terlalu takut untuk terjun di dalamnya. Tetapi di sisi lain diri saya, saya juga tak jarang melakukan diskusi dengan teman, mengomentari masalah-masalah Negara yang terkait sangat erat dengan dunia politik. Setelah itu, saya sadar bahwa berbicara tentang politik dengan usia kita yang mungkin masih bau kencur di mata orang-orang tua tidaklah salah. Benar-benar tidak ada yang salah. Bahkan jika mulai sekarang kita bercita-cita, atau terjun dan berkeimpung secara langsung di dunia politik benar-benar tak ada salahnya. Malah seharusnya kita berada di barisan terdepan untuk mendukung mereka, yang tentunya berorientasi membawa masyarakat Indonesia menuju masyarakat madani. Masyarakat yang lebih baik.

Rabu, 13 Maret 2013

Surat yang (tak) Tersampaikan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Surat ini, kutujukan untuk siapa saja yang pernah kecewa bahkan terluka karenaku. Khususnya, kepada kedua orang tua yang sangat kucintai.

Aku bingung harus memulai dari mana. Entahlah, aku hanya membiarkan semua pikiranku tumpah dan memaksa jemari ini tuk menekan tuts-tuts keyboard ini. Banyak sekali yang ingin kuceritakan langsung pada kalian. Tanpa perantara, berbicara melalui hati. Tapi ah, kurasa aku terlalu pengecut untuk itu semua. Aku hanya takut, tak siap menerima segala konsekuensi di ujung tanduknya.

Aku memang masih terlihat kekanak-kanakan. Manjaku masih sering keluar, emosi ini juga masih saja labil. Tapi aku juga sudah cukup umur untuk memilih. Terlebih untuk hidupku sendiri. Karena ini hidupku. Aku yang menjalaninya. Tapi tak berarti bahwa aku mengabaikan kalian. Itu tak benar. Aku peduli. Dan itu sebabnya, sampai detik ini aku masih saja terbayang.

Mungkin, pilihanku kali ini tak seperti kebanyakan orang. Aku yakin kalian pasti heran, keget, tak percaya, bahkan sampai pada takaran meremehkan. Bukan, bukan hanya kalian. Siapapun yang mendengar pilihanku kali ini, pasti juga akan merasakan hal yang sama. Itulah mengapa aku terlalu takut untuk membuka.

Tapi percayalah, aku mulai belajar memilih dengan alasan. Aku mulai belajar memilih dengan pendasaran. Dan aku mulai belajar memilih untuk kebermaknaan. Aku bukan anak kemarin sore yang tiba-tiba jatuh hati pada pandangan pertama dan menentukan pilihan saat itu juga. Tapi tahukah kalian bahwa aku telah melalui proses yang sangat panjang hingga akhirnya aku menemukannya, lalu jatuh dan memantapkan hanya padanya?

Sungguh, kuakui aku terlalu pengecut untuk urusan ini. Saat aku sudah menjatuhkan sebuah pilihan, lidahku begitu kelu tuk mengatakannya. Aku hanya takut, jika pilihanku akan menghancurkan ekspektasi yang terlanjur kalian terbangkan terlalu tinggi. Aku hanya tak siap, jika kalian berbalik arah dan justru menolakku karena pilihan itu. Padahal, jika tanpa dukungan dan restu dari kalian, aku bisa apa?

Aku tak berani meminta, karena aku tahu aku sudah terlalu sering meminta. Aku juga tak berani memohon, karena aku sadar sudah tak terhitung berapa permohonanku yang kalian iyakan. Lantas aku harus apa?

Masa depanku ada di pilihan ini. Bukan materi yang kuharapkan walau aku yakin aku pasti membutuhkan. Bukan prestis yang kutuju walau terkadang terbesit sedikit pikiran untuk itu. Tapi bukan itu prioritasku. Bukan itu yang menjadi landasan pemilihanku. Aku tahu, paradigma yang sudah tertanam lama sungguh sulit tuk dihapuskan. Tapi apakah aku harus mengorbankan sebuah kebenaran dan cita-cita yang besar hanya untuk paradigma yang salah? Apa harus kukorbankan perjalananku menetapkan pilihan ini hanya untuk mengikuti jalan cerita yang tak mengantarkanku ke tempat yang kutuju?

Tolong, katakan padaku bagaimana cara untuk meyakinkan kalian akan pilihanku? Tolong, bantu aku lepas dari ketakutan yang membelengguku. Dan tolong, dukung aku ketika tak ada seorangpun yang berjalan bersamaku.

Pidato Ujian Praktek

Assalamualaikum Wr. Wb

Yang terhormat,
Bapak dan ibu guru SMA Negeri 2 Surabaya.
Dan yang saya cintai,
Teman-teman kelas XII SMA Negeri 2 Surabaya.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmatnyalah kita dapat berkumpul di aula SMA Negeri 2 Surabaya ini dalam acara istighosah dan motivasi bersama.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang.
Terima kasih yang sebesar-besarnya saya tujukan kepada bapak dan ibu guru yang berkenan hadir, dan teman-teman kelas XII yang telah mengizinkan saya untuk menyampaikan pidato singkat ini.

Teman-teman yang saya sayangi,
Tidak terasa sudah hampir 3 tahun kita menimba ilmu di SMADA yang kita cintai ini. Tak hanya pelajaran di kelas yang kita dapat, tapi lebih dari itu. Persaudaraan, perjuangan, tangis, tawa, yang sebentar lagi hanya akan menjadi memori.
UNAS sudah semakin dekat, hanya kurang 35 hari lagi! Saya yakin kalian sudah melakukan berbagai persiapan dalam menyambutnya. Mulai dari belajar sendiri, mengikuti bimbingan belajar, memanggil guru privat, dan lain sebagainya. Saya juga tahu, bahwa hari-hari kalian selalu diisi dengan belajar dan berdoa tanpa lelah dan bosan.

Tapi tak dapat dipungkiri, bahwa ada dari kita yang juga mempersiapkan kecurangan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kali penyelenggaraan UNAS, kunci jawaban diperjualbelikan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Hebatnya, presentase kebenaran kunci tersebut sangat tinggi, dan terbukti manjur dari tahun ke tahun.

Teman-teman yang saya cintai,
Bocoran tersebut dapat berbahaya bagi masa depan kita. Bahkan ekstrimnya, bagi masa depan bangsa kita. Mental dan moral kita sebagai generasi penerus akan hancur hanya karena bocoran tersebut. Pendidikan Indonesia tak hanya gagal dalam menciptakan pendidikan yang baik, tapi juga akan gagal dalam mencetak produknya, yaitu kita. Sebagai tombak kepemimpinan bangsa ini selanjutnya.

Teman-teman yang saya banggakan,
Seperti yang sudah dijelaskan oleh bapak dan ibu guru, bahwa UNAS tahun ini agak berbeda. pemerintah sudah menyiapkan 20 paket soal dengan LJK yang berbarcode di dalamnya. Itu artinya, dalam satu ruangan, setiap siswa mendapat satu soal yang berbeda satu sama lain. Ditambah dengan LJK yang sudah dilengkapi barcode yang tidak memungkinkan untuk ditukar. Pengondisian seperti ini mungkin tak bisa 100 % menghilangkan kecurangan, tetapi saya yakin cara ini efektif untuk mengurangi potensi kecurangan yang akan terjadi. Perubahan memang memerlukan waktu, bukan?

Teman-temanku seperjuangan,
Tahukan kalian bahwa dengan menggunakan bocoran, kita tak ubahnya seperti tikus-tikus berdasi yang selama ini kita hujat. Bukankah kita bertekad untuk memperbaiki wajah ibu pertiwi yang sudah tercoreng ini? Menumpas segala bentuk kecurangan yang terlanjur melekat dengan identitas bangsa kita!
Maka dari itu, mari kita mulai dari diri kita sendiri sebagai subyek utama dalam permasalahan ini. Mari kita buktikan bahwa proses belajar kita di SMADA selama ini benar-benar membuahkan hasil yang optimal. Dari otak kita sendiri! Dari keringat kita sendiri! Jangan pernah takut menjunjung tinggi kejujuran dan sportifitas. Percayalah, hasil yang akan kalian dapat akan jauh lebih memuaskan dari pada hasil yang didapat dengan kecurangan.

Dan untuk bapak dan ibu guru, terima kasih atas kesediaan bapak dan ibu dalam mendidik dan membimbing kami selama ini. Lepas anandamu dengan doa dan dukungan. Kami berjanji kami tidak akan mengecewakan bapak dan ibu.

Sekian pidato dari saya, saya mohon maaf apabila ada kata atau sikap yang kurang berkenan. Atas perhatian bapak dan ibu serta teman-teman sekalian saya mengucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Kamis, 24 Januari 2013

Terkadang Kita Harus Memaksakan Diri

Surabaya, 24 Januari 2013...
H-81 UNAS SMA 2013

Berkaca... Apa yang sudah kupersiapkan untuk menyambutnya?
N.O.T.H.I.N.G!
Ini gila! Entah mengapa atmosfernya sangat berbeda dengan detik-detik terakhir di penghujung SMP 3 tahun yang lalu.Semuanya berubah!

Lantas? Apa mau diam saja?
E.N.G.G.A.K!
Aku sudah niat untuk berubah, berusaha memperbaiki dan meniti kembali. Tapi niat hanya terpatri dalam hati tanpa tidakan yang jelas!

Setelah perjalanan panjang mencari tujuan, akhirnya aku sampai pada titik ini. Belum final memang, tapi kurasa ini sebuah kemajuan yang sangat pesat! Setidaknya ada sebuah gambaran yang memotivasiku! Yap! Motivasi! Mimpi! Itu yang selama ini kuabaikan!

Aku terlambat! Memang, memang aku terlambat start dari mereka. Tapi detik ini, dengan mimpi dan motivasi yang menjadi bahan bakarku, aku tak hanya akan memulai. Tapi juga berlari. Aku harus berlari! Melebihkan usaha dan doa di atas rata-rata.

Semua ini hanya perlu pembiasaan. Dan terkadang, untuk terbiasa kita memang harus dipaksa! Tak ada salahnya untuk keras pada diri sendiri!

S.E.M.A.N.G.A.T

Kamis, 03 Januari 2013

Ingat Luas Sebelum Sempit (!)

Kamis, 03 Januari 2013.

Hari ketiga di bulan pertama dalam tahun ini. Tetapi sudah memasuki hari ke-13 liburan semesteran saya. Itu artinya sudah 13 hari saya vakum dari dunia efektif sekolah dan diberi kenikmatan waktu senggang yang lumayan dahsyatnya.

Hari-hari pertama liburan saya diisi dengan kedatangan saudara dari Batu, sampai saya dan keluarga diculik oleh mereka untuk dibawa jua ke kota wisata terssebut. Tak lama memang, hanya sekitar 2 hari 2 malam mereka di sini dan saya balas dengan kehadiran selama 4 hari 4 malam di sana. Berkumpul bersama keluarga besar, sekedar melihat tv dan membuat obrolan santai, sampai berwisata ke waduk Selorejo saya lakukan selama itu. Sampai akhirnya ketika hari terakhir saya di sana, tepatnya seminggu yang lalu. Saya dan beberapa cuil teman sekelas saya semasa kelas XI menyambangi saudara sepencipta namun berbeda jenis yaitu hewan-hewan cantik lucu nan imut yang dianugerahi tempat sekeren Batu Secret Zoo. Setelah itu saya kembali pulang ke Surabaya ke rumah tercinta dan memulai kehidupan di rumah seperti sebelumnya.

Dua hari selanjutnya, hari Sabtu minggu lalu saya baru keluar karena ada beberapa urusan sekalian menonton    sebuah film Indonesia yang sedang booming. Katanya sih jarang ada film Indonesia sebagus ini, film yang mengangkat tentang romantika bapak presiden ke-3 kita dengan ibu negara. Memang bagus, tetapi tak ada kesan yang begitu mendalam bagi saya. Saya hanya kagum bagaimana sepasang makhluk Tuhan tersebut memperlakukan selainnya dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. *weeets stop*. Mungkin itu bisa dibilang hari terakhir saya keluar dari rumah, karena semenjak itu saya sudah tak pernah keluar rumah lagi sampai detik ini. Total sudah lima hari dan saya rasa baru beberapa menit tadi batin saya sudah mencapai puncak ketahanannya.

Lima hari ini, kegiatan saya di rumah bisa dibilang cukup membosankan. Hanya latihan soal, blogging, mengunjungi twitterland, tidur, melihat acara tv yang mendadak menampilkan film-film yang cukup menghibur, makan, mandi, ibadah ritual, dan penghayatan diri. Tak lebih. Ibu berkali-kali memberikan tawaran berlibur kembali yang tentu saja saya terima dengan antusias. Tapi yaaa rencana tinggal rencana karena sampai sekarang pun tak ada liburan itu.

Siang tadi, selepas shalat Dzuhur saya kembali berhadapan dengan laptop yang sudah difasilitasi dengan layanan internet sehingga saya bisa dengan asyik berselancar di dunia maya, seperti yang saya lakukan ketika bosan. Saya membuka blog ini, berencana membuat satu postingan lagi tapi tak jua saya temukan inspirasi yang pas. Saya mencoba bermain ke twitland dan lagi-lagi hanya bosan yang saya temui di sana. Hingga akhirnya dengan mantap saya membuka soal penyisihan sebuah lomba statistika edisi tahun lalu dan mencoba mengerjakannya. Baru mencapai nomor ke tujuh adik saya datang dan meminta "jatah"nya untuk penggunaan laptop hari ini. Karena saat itu saya tak menemui kenikmatan yang begitu menggelora, yaa dengan senang hati saya berikan padanya. Lalu saya berbaring di sofa ruang tamu dan entah apa yang terjadi saya segera tak sadarkan diri alias tidur siang.

Tidur siang yang cukup lama, saya terbangun hanya beberapa menit sebelum adzan Ashar berkumandang. Ketika bangun, saya mendapati bapak dan ibu ada di dekat saya. Ibu mengabarkan semua rencana liburan beliau yang gagal total, dan saya menanggapinya dengan rengekan. Saya katakan pada beliau bahwa saya sudah sangat jenuh dan bosan. Tak ada kerjaan berarti yang saya lakukan di rumah. Saya kembali merengek dan merengek agar diajak berlibur entah ke mana saja asalkan jangan di rumah. Saya benar-benar bosan, merasa seperti dalam penjara dan tak ada lagi yang bisa saya lakukan.

Tiba-tiba saya teringat akan tweet dari salah seorang sahabat yang intinya sangat menusuk sekali.
"..... Pantesan hidupmu sedih, mengeluh terus sih"
Kalau tidak salah begitu isinya, dan saya segera tersadar bahwa baru saja saya banyak mengeluhkan tentang liburan kali ini. Ga mau dong jadi orang yang hidupnya dirundung kesedihan? Jadi ya saya mulai beristighfar dan mencoba menggali pikiran-pikiran positif agar bersemangat kembali.

Dan ternyata berhasil! :D Saya berhasil menemukan beberapa hal yang sebisa mungkin saya sugestikan untuk mengusir kejenuhan saya. Saya sadar bahwa Allah begitu baik sekali memberi liburan panjang ini dan menahan saya untuk tetap di rumah bersama keluarga. Karena saya juga sadar bahwa sebentar lagi kehidupan akan berjalan seperti seharusnya. Liburan berakhir dan rutinitas awal saya yang begitu padat harus kembali saya jalani. Senin sampai dengan Sabtu yang menyita banyak waktu saya, terlebih jika ada kegiatan-kegiatan tambahan yang mengharuskan saya berangkat setelah Shubuh dan baru menapakkan kaki di rumah ketika langit sudah gelap. Sebuah Quality Time yang sangat berkualitas untuk saya dan keluarga. ^^

Yang kedua, dengan kenikmatan senggang seperti ini justru banyak targetan yang SEHARUSNYA dapat terpenuhi. Ya, SEHARUSNYA! Karena ternyata saya masih saja berkutat dengan kejenuhan yang membuat saya enggan keluar dari zona nyaman ini.

Terakhir, saya sangat berterima kasih kepada Allah yang telah menegur saya melalui ingatan terhadap twit seorang Facrul Nizar (@nizzarr). Semoga pahala senantiasa mengalir atas twit yang bermanfaat seperti itu. Terima kasih juga ya Allah akan nikmatmu selanjutnya yang justru menghadirkan sebuah inspirasi untuk postingan ini. Semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya. ^^


Saya teringat akan sepenggal lagu yang berjudul Demi Masa, entah siapa penyanyinya. Lagu ini menceritakan tentang pemahaman terhadap surat Al-Ashr - Demi Masa.. Lets Enjoy..
Demi masa..
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan yang beramal shaleh
Demi masa..
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran
 Gunakan kesempatan yang masih diberi semoga kita takkan menyesal
 Masa usia kita jangan disiakan karena ia takkan kembali
Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup.. sebelum mati

Allah sedang berbaik hati memberi kita kelapangan saat ini, jadi gunakan kesempatan sebaik-baiknya agar kita takkan menyesal, sebelum segala sesuatunya menjadi sempit dan memojokkan kita. Hantam kejenuhan anda dan keluarlah dari zona nyaman, sekarang juga!

02 Demi Masa.mp3

Rabu, 02 Januari 2013

Kembalikan Kebahagian Anak-Anak

Rabu, 02 Januari 2013..
2013.. Yaa, 2013.. Tahun sudah bertambah lagi, artinya waktu terus berjalan dan peradaban semakin maju. Kemajuan yang tak hanya menciptakan terobosan positif, melainkan juga meninggalkan banyak goresan negatif. Salah satu yang sangat disayangkan adalah perbedaan perilaku "anak-anak" dari jaman ke jaman.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa keadaan anak-anak Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan (hanya untuk yang peduli dan perhatian sih :p) Kalau bahasa kerennya mungkin "mengalami degradasi moral" huehehe wah wah bahaya banget nih mengingat berpuluh-puluh tahun ke depan nasib bangsa ada di tangan mereka.

Sewaktu berseluncur di dunia maya, dengan mengetikkan kata "perbedaan anak jaman dulu dan jaman sekarang" hasilnya cukup banyak lho, akan saya kutip beberapa di postingan kali ini. Let's enjoy! ^^




Dari 2 gambar di atas silahkan klik untuk memperbesar :D Sumbernya saya dapat dari sini. Saya cukp tertawa miris membacanya, kalau katanya bang haji Roma sih, T E R L A L U......


 2 gambar ini juga boleh diklik untuk memperbesar :) Saya ambil dari sini.. Penulis juga menyertakan beberapa perbedaan permainan yang dilakukan. Kalu jaman dulu, mainannya masih kelereng, benteng-bentengan, petak umpet, pokoknya tradisional dan asli laaah. Kalau sekarang? Internet, game online, tv, sudah jadi sahabat sehari-hari tuh :p

Sudah cukup review postingan orang lainnya, sekarang saatnya nge-share apa yang ada di pikiran-pikiran saya nih, boleh kan? ^^


Saya sangat setuju dengan dua cuplikan postingan di atas. Dalam realita perjalanan saya sehari-haripun, fenomena tersebut berungkali saya temui, bahkan melalui lingkungan terdekat saya. Dan saya rasa, saya pun terlibat dalam aksi perubahan ini. Tetapi saya bersyukur karena setidaknya saya masih sempat merasakan kebahagiaan orisinil yang memang menjadi hak bagi usia anak-anak. Bisa dibilang, saya (dan mungkin semuanya yang seumuran) cukup beruntung karena berada dalam masa transisi, tak terlalu mengarah pada golongan "jadul" tapi tak juga terlalu "gaul".,


Saya dan teman-teman masih sempat merasakan kejayaan Joshua, Tasya dan lainnya dengan tembang-tembang khas polosnya anak kecil. Kami juga sempat merasakan perjuangan permainan-permainan tradisional yang benar-benar menghasilkan peluh, luka dan noda.

Kalau anak sekarang? Figur Joshua dan penyanyi cilik lainnya tergantikan oleh boy band junior (yang dulunya saya kira itu boy band yang digawangi pemuda-pemuda tanggung), penyanyi cilik tak kalah banyak siiih, tapi ya gitu... Kok yang dibawakan berat banget? Cintaaaaa terus, memang sudah tahu artinya cinta, dek? Oh iya, sudah gaul se, sudah modern ya? Jadi seumuran TK aja udah paham th cinta-cintaan *jleb*


Ga hanya itu bos! Anak jaman sekarang nih, ga mau repot lho. Jadi kalau jaman kita lagi seru lari kejar-kejaran, bermain di lapangan, hujan-hujan sampai gelundungan guling-guling di tanah, mereka asyik aja di depan monitor seharian 25 jam! Nah lho padahal satu hari hanya 24 jam tapi ini bisa keimbuhan jadi 25 jam. Saking hebatnya tuh ;)
Saya punya beberapa contoh riil yang sangat dekat. Adik saya sendiri nih, sehari-harinya hanya menghabiskan waktu untuk bermain, orang tua sampai hampir nyerah tuh ngadepinnya. Bayangin ya, bangun tidur bukannya langsung ke kamar mandi ngapain gitu, eeh ini malah menghidupkan laptop duduk manis daaan bermain PB! PB? Apa itu? Yang saya tahu sih PB itu inisial guru fisika saya hehe :p Bukan ding, PB itu Point Blank salah satu game online yang katanya sangat membuat orang kecanduan. Selain PB, permainan favoritnya yaitu Baseball. Hanya dengan menekan tombol spasi, ia sudah bisa memukul bola dan menang! Heran, apa asyiknya sih? Enakan juga pegang tongkat baseball beneran, mukul, melihat seberapa jauh pukulan kita daaaaaan lari dan goooool! *Eh, itu sepakbola -,-.

Contoh kedua datang dari adik sepupu dan ponakan-ponakan yang masih kuecil-kecil.. Antara usia TK-SD kelas 2 laah~ Saya sedikit kaget waktu diajak bermain Play Station. Apa yang terjadi? Saya diajari bermain GTA (Grand Thef Auto) yang permainannya gak banget deh kalau untuk ukuran mereka, banyak adegan kekerasannya.. Lalu..... Smack Down, dan lagi-lagi saya diajari. -___- Tahu sendiri kan smack down itu permainan apa? Sudah nyiksa orang, banting-bantingan dan banyak perempuan-perempuan sexy nyaaa ~ Masih banyak lagi deh pokoknya permainan yang gak banget.

Contoh ketiga yaituuuuuu, lagi-lagi adik sepupu saya hehe. Walaupun usianya baru 6 tahun tapi pegangannya Ipad lho, saya saja yang sudah 17 tahun pegang Ipad baru punya dia hehe -,- Bisa mengoperasikan android, BB dan PC, keren gak tuh, saya saa biasanya kalau pinjem android dan BB teman masih agak linglung. Ini saya yang terlalu gaptek apa adik saya yang terlalu modern sih? -,-

Itu baru contoh kecil di sekitar saya, saya yakin di luar sana teman-teman pun sering sekali menemukan hal serupa. Ga kaget sih, karenapengaruh-pengaruh dari luar masuk terlalu jauh. Apalagi lewat peranan media yang tak bisa dipungkiri selalu berada di sela-sela waktu kita. Tayangan televisi, pengaruh teman, majalah, internet, tokoh idola, bahkan sampai buku tugas pun menggerakkan mereka.

Yang paling saya sayangkan adalah kurangnya figuritas yang mereka damba-dambakan, di sini lebih saya tekankan pada artis-artis cilik Indonesia. Orang-orang dewasa dan mengaku berpendidikan yang notabenenya menjadi otak pelibatan mereka dalam dunia entertaiment harusnya berpikir ulang, karena mereka sungguh mengorbankan moral dan pendidikan jutaan anak Indonesia. Bukan seenaknya mengemas acara yang terlalu alay hanya demi uang uang dan uang.

Mari kita cermati dan kupas sejenak.
1. Sinetron picisan yang banyak melibatkan anak
  ~ Saya tak habis pikir ketika secara tak sengaja saya menyaksikan sebuh adegan licik, jahat dan tak berperasaan yang dilakukan 2 anak perempuan kepada anak perempuan lain yang digambarkan sangat polos dan baik hati. Ya saya tahu pak, buk.. Memang peran antagonis dibutuhkan, tapi ya coba deh dikemas dengan cara yang lebih wajar dan mendidik untuk umur-umur mereka. Secara tak langsung sampeyan-sampeyan sudah melatih dan membiasakan kepribadian mereka dengan kekerasan, pikiran licik, dan cemooh-cemooh lho.
 ~ Ada juga adegan tentang anak seumuran (lagi-lagi) TK, sudah (maaf) memeluk, berpegangan tangan dan berciuman dengan lawan jenisnya. Yaaa jangan heran kalau di berita marak dengan kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur.
2. Hilangnya lagu-lagu anak
  ~ Yang ini juga cukup berpengaruh lho. Dulu jaman saya, masih ada lagu-lagu yang mencerminkan kepolosan, keluguan dan kelucuan kita sebagai anak-anak. Bayak banget nilai positifnya, yang diajk untuk nabung, diceritain kalau nanti bisa ke pulau dewata asalkan nilainya bagus, diingatkan kalau bakalan ada  tikus dan kecoa cuma gara-gara jarang bersih-bersih, dan lainnya. Eeeh lagu sekarang sudah main cinta aja terus nanya facebook dan twitter. -___- Mbok ya disadari, kalau lagu-lagu begitu yang disajikan, terus didengarkan, dihapalkan, diikuti, didengung-dengungkan yaaaa lama-lama masuk ke alam bawah sadar dan memproduk mereka.

2 Hal tersebut masih secuil dari berbagai permasalahan calon pemimpin bangsa ini lho. Jadi jangan stag dan mundur untuk berbenah. Ini tugas kita semua, bukan hanya Pak Seto sebagai guru kesenian, komputer, sekaligus merangkap sebagai TU di sekolah saya. Ehm, bercanda ._.v maksud saya Pak Seto yang ketua Komnas perlindungan anak itu lhooo. Ya tugas kita semua, mulai dari bapak-bapak ibu-ibu yang sudah berumur, kakak-kakak yang sudah dewasa, teman-teman yang masih labil, dan adik-adik yang menjadi korban dan calon korban *eeeh*. Mereka adalah generasi penerus, jalan cerita mereka masih panjang, biarlah mereka mengukirnya dengan kebaikan yang harus kita tanamkan sejak mereka dini, di usia-usia mereka saat ini. Karena masa kecil adalah saat paling tokcer untk memasukkan data jauuuuh di bawah sadar mereka. Kembalikan kebahagiaan dan memori indah masa kecil mereka yang sudah terenggut arus globalisasi.


Salam semangat, salam perubahan.,
Wassalamualaikum ^^
Cute Purple Rain drop